Kamis, 07 Januari 2016

Peralihan

sumber gambar
Dua hari yang lalu, aku membeli sebuah majalah remaja di salah satu toko buku di salah satu mal di Surabaya. Aku membeli majalah ini hanya karena tertarik dengan bonus yang diberikan secara cuma-cuma oleh majalah ini, yaitu agenda untuk diisi sepanjang tahun 2016. Isu dari majalah tersebut sejujurnya memang tidak menarik perhatianku. Aku hanya tertarik lantaran sampul agenda yang menjadi bonus dari majalah tersebut tebal dan berwarna hitam, yang merupakan warna favoritku. Agenda bonus tersebut cukup tebal, dan aku tidak yakin apakah aku membayar sekian puluh ribu untuk majalah remaja itu atau malah agendanya. Aku bahkan sejujurnya tidak peduli.

Sampai hari ini, baru agendanya saja yang kusentuh dan kuisi dengan beberapa hal. Majalah yang menjadi produk utama penjualan malah kubiarkan tergeletak begitu saja di kamar dan malah baru kubaca sore tadi, meskipun sudah kubawa ke kampus untuk mengisi waktu luang (yang sialnya malah tidak jadi kubaca di kampus). Sesampainya aku di rumah, aku mencoba membuka-buka majalah itu dari halaman paling belakang dan membaca beberapa bagian dari beberapa artikelnya. Tidak sampai satu artikel kuhabiskan, aku sudah membolak-balik lembaran demi lembaran majalah tersebut sampai tidak sadar bahwa aku sudah sampai ke sampul depan majalah.

Ternyata, aku benar-benar tidak tertarik, malah cenderung merasa aneh saat membaca majalah tersebut. Hal yang paling mencolok saat aku mencoba membaca satu per satu kalimat yang ada dalam artikel-artikel dalam majalah itu adalah banyaknya penggunaan bahasa Inggris yang dicampur dengan bahasa Indonesia dalam setiap kalimatnya. Peralihan semacam ini cukup menggangguku. Memang, banyak artikel dalam majalah tersebut yang membahas tentang artis atau pun penyanyi Hollywood. Dan juga, memang sekarang ini penggunaan bahasa Inggris yang diselipkan dalam percakapan berbahasa Indonesia juga sudah jamak dilakukan oleh kebanyakan anak muda Indonesia. Akan tetapi, apakah peralihan bahasa semacam ini diperlukan dalam menyampaikan berita dalam sebuah media cetak? Seingatku, majalah-majalah remaja pada saat aku SMP tidak terlalu banyak menggunakan peralihan bahasa dalam tiap artikelnya. Mungkin beberapa artikel di majalah pada zaman itu menggunakan bahasa Inggris pada judul artikelnya, tetapi di bagian isi artikel mereka tetap menggunakan bahasa Indonesia untuk menyampaikan informasi terkait saat itu.

Mungkin beberapa (atau bahkan banyak) orang akan menganggapku sebagai orang yang konvensional dan tidak gaul. Namun, hal ini lah yang mungkin akan membuat kebanyakan dari generasi muda Indonesia yang tidak mengindahkan pentingnya menggunakan bahasa yang tepat terutama dalam media tulisan, yang sejatinya kesalahan sekecil apa pun bisa dilihat dengan mudah dengan mata telanjang. Tidak seperti percakapan, yang hanya bisa didengar sekali lalu dan tidak bisa dideteksi kesalahannya kecuali jika pendengarnya benar-benar menyimak. Dan lagi, media cetak semacam majalah remaja ini dapat dengan mudah mempengaruhi cara berpikir generasi muda saat ini. Jika peralihan bahasa tersebut digunakan untuk menyebut beberapa istilah yang memang tidak ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia, mungkin masih sah dilakukan. Akan tetapi, menggunakan peralihan bahasa di hampir keseluruhan artikel dalam media cetak itu seharusnya tidak perlu. Hal itu hanya akan dianggap aneh. Apalagi jika tata bahasa Inggrisnya tidak tepat, malah akan menjadi lebih aneh lagi. Hal ini akan membuat generasi muda Indonesia malas memikirkan kosa kata asli bahasa Indonesia dan cenderung akan seenaknya mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, dan hal tersebut adalah yang seharusnya tidak perlu dilakukan.

Jika boleh memberi saran, sebaiknya majalah tersebut fokus dengan satu bahasa dalam satu artikelnya, semisal dalam satu artikel yang membahas artis luar negeri ia menggunakan bahasa Inggris, dan dalam artikel lain yang membahas hal-hal yang berkaitan dengan Indonesia ia menggunakan bahasa Indonesia. Atau seluruh majalah menggunakan satu bahasa saja, alih-alih mencampur dua bahasa dalam kalimat-kalimat di tiap artikelnya. Dengan begitu, majalah tersebut akan lebih enak dibaca, alih-alih memaksakan diri untuk mengikuti sesuatu yang dianggap gaul tetapi tidak tepat guna.

0 komentar:

Posting Komentar