Sabtu, 09 Januari 2016

Pemberian

koleksi pribadi
Adalah jawaban yang masih sama persis seperti ketika aku tanya dia beberapa tahun yang lalu. Pemberian. Itulah yang ia jawab ketika kemarin malam kutanya apa arti nama depan dari keseluruhan nama lengkapnya, hanya untuk memastikan jika ingatanku benar. Nama yang unik dan aneh memang selalu menarik perhatianku, terutama nama-nama yang tidak umum dan jarang dipakai oleh kebanyakan orang. Terutama nama depan itu, nama depan seorang wanita yang selamanya akan tetap menjadi gadis muda karena nama belakangnya memiliki arti 'gadis muda' secara harfiah.

Aku ingat betul sudah berapa lama aku mengenal wanita ini. Sudah hampir empat tahun. Tetapi rasanya seperti sudah lama sekali. Seperti aku terlalu mengenal dia. Seperti ia terlalu mengenal aku. Terlalu dekat. Terlalu aneh untuk dipikirkan, tetapi sangat nyata dan terasa. Ia adalah sosok wanita yang keibuan. Maka, tidak aneh apabila aku menganggapnya sebagai ibu yang tidak pernah kupunya. Mungkin aku memang selalu membutuhkan sosok ibu di sekitarku bahkan ketika aku tidak sedang berada di rumah. Dan, ya, dia memang benar-benar memiliki kualitas itu. Dia selalu ada, bahkan ketika aku jarang ada untuknya. Dia selalu di sana, mengawasi tanpa menghakimi. Membantu tanpa diminta. Sampai terkadang aku merasa seperti anak malas yang selalu mendurhakai ibunya, tidak peduli dan seenaknya sendiri. Tetapi ia selalu terima itu, bahkan ketika ia butuh teman di kala menunggu tetapi aku malah pulang terlebih dahulu karena beberapa hal. Ia selalu menerima dengan lapang dada. Entah apa material yang membentuk hatinya sehingga ia bisa terlalu sabar seperti itu, sebuah kualitas yang belum bisa aku miliki.

Terlalu banyak cerita yang terjadi bersamanya, setidaknya dalam hidupku sendiri. Entah aku tokoh utamanya, entah ia tokoh utamanya. Terkadang bergantian secara tidak sadar. Pernah kami mengalami masalah yang cukup besar sehingga kami harus kehilangan kebersamaan selama satu semester. Namun, ternyata semesta sudah mengatur agar kami bersama lagi di semester berikutnya, sampai sekarang. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi itu terjadi begitu saja. Jika kami berdua ingat tentang hal itu, kami hanya akan menertawakan kekonyolan kami saat kami tidak menyapa satu sama lain selama hampir enam bulan perkuliahan itu. Aneh, memang, rasa sakit hati dan rasa bersalah kami malah kami tertawakan berdua. Sampai-sampai ia bertanya, "Memang boleh, ya, mengatakan hal yang menyakitkan kita kepada orang yang menyakiti kita?" Dan kujawab, "Boleh saja, justru bagus seperti itu. Tidak perlu mengatakannya kepada orang lain." Konyol, aku tahu. Tetapi kami tidak peduli.

Ia adalah seseorang yang sebenarnya memiliki banyak potensi tetapi terlalu rendah diri. Ia merasa tidak bisa melakukan apa pun yang dianggap benar, dan pun ketika ia melakukan hal yang benar, ia tidak merasa hal yang ia lakukan itu benar. Aku sampai harus memarahinya berkali-kali akan hal itu. Ia benar-benar memiliki kemampuan yang menakjubkan yang bahkan aku sendiri belum tentu bisa melakukannya. Kemampuannya untuk menghapal kosa kata bahasa Inggris yang bahkan aku tidak pernah dengar sangat luar biasa. Dan ia bisa menirukan banyak aksen Inggris dari hampir berbagai penjuru Inggris dan sebagian Amerika, sebuah kemampuan yang aku sangat iri sekali padanya. Dan seringkali ia menggangguku dengan aksen British yang kental tetapi lucu untuk didengar. Ia senang merajut, dan hasilnya cukup rapi. Ia pernah memberiku sebuah wadah rajut yang sangat lucu untuk ponselku dengan cuma-cuma, yang tidak pernah aku pakai lagi karena takut kotor disebabkan warnanya yang terang. Ia senang membaca, dan ia menghabiskan hampir dari seluruh uang jajannya hanya untuk membeli buku dan novel yang menurutnya bagus. Koleksi bukunya sangat banyak, dan hampir semuanya berbahasa Inggris. Aku selalu bisa menanyakan rekomendasi novel yang bagus padanya dan kemudian mencari terjemahannya karena aku paling malas membaca novel berbahasa Inggris. Dan satu hal yang selalu identik dengan dia, yaitu jurnal tahunan. Ia selalu mencatat tenggat waktu tugas, utang, daftar barang yang harus dibeli, dan lainnya dalam sebuah jurnal. Jurnalnya selalu penuh dan setiap tahun ia pasti berganti jurnal. Ia sangat telaten dengan hal itu, hal yang sangat tidak akan pernah aku lakukan karena aku tidak serajin itu. Dan karena ia memiliki daftar hal yang harus ia lakukan sepanjang waktu dan membawanya ke mana-mana, ia akan selalu ingat apa pun. Dan dari pengamatanku, ia adalah orang yang paling bertanggung jawab yang pernah aku temui. Ia akan selalu berusaha memenuhi janjinya, dan ia tidak akan mangkir dari tugas apa pun yang dibebankan padanya walaupun itu harus menyusahkannya. Dan masih banyak lagi hal-hal darinya yang membuatku kagum sekaligus iri padanya.

Ia selalu menganggapku sebagai seorang sahabat yang baik, padahal aku belum merasa melakukan hal yang sepadan seperti yang ia lakukan padaku. Aku belum bisa menjadi seorang sahabat yang baik baginya. Ia selalu bisa kuandalkan, dan aku selalu menghilang ketika ia butuhkan. Aku terkadang merasa tidak adil padanya. Akan tetapi, aku akan selalu berusaha membantunya. Mungkin bagi sebagian orang, ia adalah orang yang cukup sulit untuk didekati, atau bahkan menyusahkan, atau bahkan aneh. Tetapi, hal itu lah yang juga ada pada diriku. Mungkin sifat-sifat itu yang membuat kami cocok satu sama lain. Karena kami tahu masing-masing dari kami cukup sulit didekati dengan cara biasa, kami melakukan pendekatan pada satu sama lain dengan cara kami sendiri. Karena kami tahu kami sama-sama menyusahkan, kami akhirnya tahu bahwa ada yang selalu bisa dan mau kami repotkan ketika kami ada keperluan. Dan karena kami tahu bahwa kami aneh, kami bisa menjadi aneh bersama tanpa harus mengubah diri kami yang sesungguhnya. Kami bisa menerima satu sama lain dengan mudah, dan kami tidak menuntut adanya perubahan yang berarti dari diri masing-masing, kecuali untuk sikap-sikap yang menurut kami tidak patut untuk dilakukan.

Ia adalah orang yang bijaksana, setidaknya lebih bijaksana daripada aku. Ia sering merasa bahwa ia tidak bisa memberi nasihat yang bagus ketika aku menceritakan masalahku dan aku membutuhkan solusi yang tepat. Tetapi, tidak masalah bagiku. Setidaknya ada tempat untuk membagi keresahan sehingga aku tidak perlu menyimpannya sendiri. Pun ketika kukatakan padanya bahwa aku sedang tidak ingin menceritakan masalahku karena aku sedang mencoba menyelesaikannya sendiri, ia menjawab, "Seharusnya kamu cerita, jangan dipendam sendiri. Setidaknya kamu bisa berbagi denganku agar beban yang kamu angkat berkurang." Memang, setelah aku bercerita, aku merasa lega karena aku merasa didengarkan. Aku merasa diperhatikan. Aku merasa ada yang masih peduli dengan keadaanku, seberapa pun menyusahkannya aku. Pun, kadang solusi darinya cukup bagus, walaupun seringkali tidak kulakukan. Kita tidak akan benar-benar mendengarkan solusi ketika kita sedih, toh? Dan ia selalu mengingatkanku dengan caranya sendiri. Ia sering mengingatkanku dengan kata-kataku sendiri yang ia kutip dari banyak percakapan kami, yang seringkali membuatku malu sendiri karena aku bisa mengucapkan hal-hal tersebut tetapi belum bisa melakukannya sendiri.

Mungkin tulisan ini tidak cukup panjang untuk menceritakan banyak hal tentang wanita ini. Tetapi, satu hal yang aku tahu dan aku syukuri, ia memang benar-benar pemberian Tuhan untuk hidupku yang cukup berantakan ini. Ia akan selalu membantuku merapikan banyak hal dalam kehidupanku, pun ketika aku terlalu malas untuk merapikannya sendiri.

Selamat ulang tahun, Mes. Semoga kita lulus tepat waktu dan kemudian dapat beasiswa S2 setelah itu, ya.

0 komentar:

Posting Komentar