Jumat, 08 Januari 2016

Kegelisahan

sumber gambar
Dulu, saat aku masih rajin-rajinnya menonton Stand Up Comedy melalui YouTube, aku sempat menonton salah satu comic (entah siapa, aku lupa karena sudah lama sekali) sedang tampil. Dalam materi yang ia sampaikan, ia menyatakan bahwa ia gelisah dengan suatu hal (yang aku juga sudah lupa apa kegelisahan yang ia katakan waktu itu) dan akhirnya kegelisahan itu ia tampilkan menjadi materi lelucon yang ia bawakan dalam penampilannya saat itu. Aku saat itu berpikir, "Gelisah saja bisa jadi materi, keren juga orang ini." Tetapi, penampilannya saat itu tidak terlalu berkesan dalam hatiku, yang dibuktikan dengan kelupaanku akan siapa comic tersebut beserta materi yang ia bawakan waktu itu.

Namun, malam ini, aku ingat kembali. Bukan tentang siapa comic itu ataupun apa materi yang ia gelisahkan saat itu, tetapi mengenai bagaimana kegelisahannya itu bisa menjadi materi lawakan yang cukup berbobot.

Aku cukup yakin bahwa aku bisa menuliskan suatu hal yang cukup bagus karena belum bisa menjadi "sangat bagus sekali" atau "bagus sekali" di blog ini karena adanya kegelisahan yang sangat mengganggu pikiranku. Kegelisahan itu ada dan berputar-putar di otakku sehingga mau tidak mau aku harus segera menuliskannya agar tidak hilang. Setelah dituangkan dalam bentuk tulisan, kegelisahan itu lambat laun menghilang dari kepalaku. Entah gelisah karena tugas yang belum diselesaikan, gelisah karena miris melihat banyaknya penggunaan kata serapan bahasa asing daripada kosakata asli bahasa Indonesia, atau gelisah dengan kebiasaanku yang suka menunda-nunda pekerjaan. Selagi belum kupindah kegelisahan itu ke dalam tulisan di blog ini, kegelisahan itu akan selalu ada dan mengganggu. Semakin aku menggelisahkan suatu hal, semakin banyak yang bisa kutuliskan dalam sebuah narasi.

Akan menjadi hal yang berbanding terbalik ketika aku tidak menggelisahkan suatu hal apa pun tetapi memaksa untuk menulis. Biasanya tulisanku akan cenderung pendek dan tidak ada apa-apanya. Semakin aku tidak memiliki kegelisahan apa pun, semakin aku tidak bisa menulis. Maka dari itu, akan terlihat sekali bedanya ketika aku menuliskan sesuatu yang terlihat bagus dengan sesuatu yang terlihat sangat biasa sekali karena jika disebut jelek itu keterlaluan sekali dilihat dari tingkat kegelisahan yang aku rasakan. Aku menyadari hal ini ketika aku menyelesaikan tulisanku kemarin mengenai peralihan bahasa. Karena aku amat sangat gelisah dengan hal ini, maka aku merasa mudah untuk menuliskan apa yang aku gelisahkan tersebut dalam sebuah narasi yang lumayan enak untuk dibaca.

Seperti sebuah tulisan yang sudah lama dibuat oleh sahabatku di blognya, ia menyatakan bahwa sebuah rasa sakit yang ditimbulkan oleh pikiran bisa dikurangi dengan cara dituliskan. Begitu pula dengan kegelisahan. Ketika ada rasa gelisah yang mengganjal dalam waktu yang lama, sebaiknya segera dituliskan agar rasa gelisah itu berkurang. Lagi pula, banyak sekali hasil karya orang-orang terkenal yang dibuat berdasarkan kegelisahan terdalam mereka, entah melalui lagu, puisi, gambar, atau artikel. Dan lagi, kegelisahan yang dituangkan dalam bentuk hasil karya semacam itu biasanya seakan memiliki jiwa dan makna yang dalam tidak seperti tulisan-tulisanku di blog ini.

Jadi, cobalah untuk menuangkan kegelisahanmu dalam secarik kertas, siapa tahu dapat mengurangi beban yang ada dalam kepalamu.

0 komentar:

Posting Komentar