Sabtu, 12 Desember 2015

Pelangi


sumber gambar
Braaang!!!

Aku menggebrak tuts-tuts piano di depanku. Aku muak, lelah dengan rutinitas ini. Aku benci dengan semuanya. Ayah, Ibu, kakak perempuanku, dan adik laki-lakiku yang tak hentinya merengek dengan nada menyebalkan. Aku benci dengan piano. Aku bosan. Aku ingin melarikan diri. Tapi, tak mungkin. Aku terikat dengan keadaan.

Memuakkan.

Pada dasarnya aku memang tidak suka piano. Terlalu perempuan. Walaupun aku seorang perempuan, tapi aku lebih suka memainkan gitar, drum, dan harmonika. Tapi kedua orang tuaku memaksaku untuk memainkan piano. Guru privat dikirim ke rumah untuk mengajariku. Laki-laki hidung belang. Aku tak percaya dia bisa menjadi guru les. Tangannya selalu berusaha untuk menyentuhku. Untung saja Stephen, kakak laki-laki yang sangat kusayangi, selalu menungguiku les. Itu membuatku trauma.

Selain itu, aku benci piano karena guru musik di sekolahku, Bu Ann, selalu memukul tangan-tangan muridnya saat mereka memencet nada yang salah dengan tongkat kayu. Menyakitkan sekali.

Aku mengambil harmonika kesayanganku dari kantung mantelku. Diiringi semilir angin yang menyibak rambut panjangku, aku meniupkan nada minor. Sendu, menyedihkan, gelap, kelam.

Tanpa kusadari, Stephen menghampiriku sembari membawa Roosevelt, gitar akustik hitam miliknya. Dulu Roosevelt adalah nama anjing Siberian Husky kesayangan keluarga kami. Namun, sebulan yang lalu ia mati karena sakit. Untuk mengenangnya, Stephen memberi nama gitar akustik hitam yang paling disayanginya sesuai dengan nama anjing kami itu.

Dia mulai memetik Roosevelt dengan lembut, juga dengan nada minor. Aku mengiringinya dengan tiupan pasa harmonikaku. Nada-nada mengalun dengan indah dan syahdu. Lebih baik seperti ini, daripada aku dihadapkan pada piano.

***

“Selena, coba kau mainkan Canon D Mayor!” perintah Bu Ann padaku. Dengan malas dan tidak bersemangat aku menekan tuts-tuts hitam putih itu. Aku tidak suka lagu ini karena mengingatkanku pada mantan sahabatku di SMP dulu. Sahabat yang tak pantas disebut sahabat. Sahabat macam apa yang bisa mengkhianati sahabatnya begitu rupa? Jahat, sangat jahat.

Kumainkan Canon D Mayor dengan tempo lambat. Setelah selesai, Bu Ann hanya berkata, “Kau masih belum baik. Coba perbaiki lagi permainan Canon D Mayor-mu. Kau masih terlalu kasar.” Padahal aku sudah berusaha sebaik yang aku bisa! Dasar guru tak berperasaan!

“Baiklah, kelas berakhir sampai di sini. Semua boleh bubar.” ujarnya mengakhiri pelajaran musik yang mestinya menyenangkan itu dengan nada datar dan wajah tanpa ekspresi. Lalu satu per satu siswa siswi meninggalkan kelas musik.

“Hai, kau bermain sangat baik tadi. Mengapa si Tua itu berkata seperti itu? Telinganya bermasalah!” seru Ginny saat kami berjalan di sepanjang koridor menuju kelas biologi. Aku hanya mengendikkan bahu.

“Mungkin karena memang permainanku kasar. Aku tidak pernah suka lagu itu,” ucapku perlahan.

“Apa karena Regina?” tanyanya hati-hati.

Aku terdiam. Ginny sudah tahu hal itu. Tentu saja, Regina adalah mantan sahabatku itu. Orang yang sekarang masuk daftar hitam di buku harianku.

“Sudahlah, Sobat. Tak usah kaupikirkan dia lagi. Kau yang terbaik.” ujarnya mmberi semangat sembari merangkul bahuku. Aku tersenyum. Ginny, kau sahabat terbaik yang kupunya, ucapku dalam hati.

***

Aku baru saja selesai mandi saat pintu kamarku diketuk. Ketika kubuka, kulihat Stephen tersenyum lebar sambil membawa sesuatu di balik punggungnya. Aku mengernyitkan dahi. Lalu ia menunjukkan apa yang ia bawa.

“Kejutan! Selamat ulang tahun, adikku yang manis!” ucapnya. Aku terbelalak melihat benda yang dibawanya di tangan kanannya.

“Biola? Untukku?!” tanyaku tak percaya. Stephen mengangguk mantap. Kemudian ia menyodorkan biola hitam cantik itu padaku.

“Kau tak pernah mencoba memainkan ini. Aku ingin kau memainkannya. Kau bisa belajar dari buku ini atau langsung bertanya padaku jika ada yang tidak kau mengerti,” ujarnya sembari menyerahkan buku tentang teknik bermain biola dasar dari tangan kirinya. Aku menerimanya dengan segan. Kakakku bisa bermain biola? Aku tak percaya.

“Kalau begitu, coba mainkan satu lagu untukku. Aku ingin tahu kemampuan Kakak.” pintaku. Ia mengangguk. Kemudian ia berjalan menuju tempat tidurku dan duduk di tepinya. Kulihat ia bersiap-siap. Kemudian ia memainkan sebuah lagu. Mataku terbelalak.

Over The Rainbow, dalam versi bola.

Aku merinding. Ini adalah lagu yang sangat kami suka. Ia memainkannya dengan sangat sempurna. Ketika ia memainkannya, aku melirik ke arah jendela. Di langit, pelangi melukis dirinya dengan indah. Seakan ia pun menikmati permainan indah Stephen.

Begitu selesai memainkannya, Stephen meletakkan biola itu di pangkuanku, lalu berkata, “Berlatihlah. Sesudah kau bisa memainkan lagu itu, tunjukkan padaku.” Kujawab dengan anggukan pasti. Dalam hati aku berjanji akan berlatih dengan serius.

***

Aku berjalan dengan riang. Pelangi seakan menari di atas kepalaku. Pulang sekolah ini aku sangat senang. Bu Ann memberiku nilai A plus pada ujian piano tadi, ditambah dengan pujian yang pastinya didengar seluruh siswa di kelas.

Sampai di rumah, aku terheran-heran, Rumah sepi sekali. Aku mendengar suara nyanyian yang menyayat hati, diiringi dengan piano nada minor. Dan suara itu terdengar dari kamar Lilac, kakak perempuanku.

Aku menuju pintu kamar Lilac, mengetuknya pelan sambil memanggil namanya. Lalu nyanyiannya berhenti. Kudengar langkah kaki menuju pintu, kemudian berhenti. Terdengar bunyi anak kunci diputar, dan pintu terbuka. Kulihat mata kakak perempuanku itu sembab. Eye liner yang menghiasi matanya luntur terkena air mata, membekaskan garis hitam pada pipinya yang pucat.

“Kau kenapa?” tanyaku khawatir sambil menyeka air mata di pipinya. Ia menunduk. Tangisnya pecah.

“Stephen… Ia…”

“Kenapa?”

“Ia… tertabrak truk saat perjalanan pulang… dan Ayah… Ibu… sekarang di… rumah sakit…” jawabnya sesenggukan.

Telingaku bagai disambar halilintar. Kemudian aku segera menanyakan padanya di rumah sakit mana Stephen dirawat. Lalu aku menaiki motorku dan mengebut di jalan. Dalam hati aku mengingat janjiku padanya untuk berlatih biola lebih serius lagi. Air mata mulai mengalir perlahan, menghangatkan pipiku yang tadi terkena pengejuk ruangan dari kamar Lilac.

Sesampaiku di rumah sakit, aku langsung memarkirkan motor dan berlari ke lobi rumah sakit seperti orang kesetanan. Dari jauh kulihat Ibu menangis di pundak Ayah. Aku berlari menuju mereka.

“Ayah, Ibu, apakah Stephen baik-baik saja? Bagaimana keadaannya?” buruku. Tiba-tiba kulihat seorang dokter keluar dari sebuah ruangan dan menghampiri kami. Aku langsung memegang jas putihnya dan menanyakan hal yang sama. Dai a berkata dengan tenang, “Maafkan kami. Kami sudah melakukan yang kami bisa. Bagaimana pun, ini kehendak Tuhan. Kami tak bisa melawannya.”

Aku pun menangis. Menangis sampai tak ada lagi air mata yang tersisa.
***
Over The Rainbow.

Lagu ini adalah lagu kenanganku bersama Stephen. Lagu yang kami berdua sangat sukai. Lagi ini selalu kumainkan saat konser biolaku, baik konser tunggal maupun konser akbar. Lagu yang akan terus mengingatkanku pada Stephen. Lagu yang selalu kumainkan untuknya, kupersembahkan untuknya di surga.

Semoga kau tenang di tempatmu sekarang, Kak.


(Jumat, 8 April 2011. Dengan perubahan.)

0 komentar:

Posting Komentar