Minggu, 20 Desember 2015

Peduli

Dunia selalu saja tidak adil. Selalu saja ada orang-orang yang lebih diperhatikan dan dipedulikan. Dan orang-orang itu bukan aku.

Kulihat bak mandi penuh cairan berwarna merah hangat di depanku. Bau anyir menyeruak di seluruh ruangan, bercampur dengan uap air yang mengitariku. Tangan kananku tercelup dalam bak sampai batas siku, terendam dalam kubangan air hangat bercampur darah yang mengalir dari luka menganga di pergelangan tanganku. Keran air terus mengalirkan air hangat, membuat air dalam bak meluap dan membasahi seragam sekolahku.

Aku menyerah. Menyerah pada takdir. Menyerah pada dewa kematian.

Aku tersengal-sengal, antara kehabisan darah, mencium bau anyir darahku sendiri, dan terlalu banyak uap air mengepul di sekitarku. Kesadaranku semakin lama semakin menipis. Samar-samar terdengar suara derap kaki dan debaman pintu yang berlanjut pada teriakan. Pandanganku menjadi benar-benar gelap.

Akan tetapi, mana aku peduli soal itu?

Ah, mungkin aku sudah tertidur terlalu lama. Di manakah aku? Sudah berapa lama aku di tempat ini? Siapa yang membawaku ke sini?

Aku sudah tidak berada di kamar mandi lagi. Pemandangan merah darah yang tadinya ada di hadapanku berganti menjadi putih bersih. Damai. Kulihat tangan kananku tak lagi mengalirkan darah segar, kini berbalut kasa yang agak tebal. Entah apa yang mereka lakukan dengan tanganku sehingga bisa menghentikan laju darah yang keluar dari luka yang menganga.

Aku berusaha duduk. Kulihat orang-orang yang selama ini bersikap tak acuh padaku kali ini ada di satu ruangan yang sama denganku. Di samping kiri ranjangku ada Ibu. Ia terus menggenggam tangan kiriku seakan aku akan kabur dari tempat ini. Kulihat matanya sembab, sepertinya habis menangis keras semalam suntuk. Tetapi, apa peduliku?

Di sofa tepat di hadapan ranjangku, tengah tertidur ketiga sosok lelaki yang bahkan selama ini sepertinya tidak ingat aku ada. Ayah, kakak lelaki, dan adik lelakiku. Kulihat tangan mereka saling berpadu dengan kuat, seperti akan menyatukan diri mereka untuk menghimpun kekuatan. Mata mereka semua sembab, sama seperti Ibu. Akan tetapi, apa peduliku?

Di sofa yang lain, dekat dengan pintu masuk, ada pula beberapa orang yang juga sedang tertidur. Ternyata sahabat-sahabatku yang selama ini kupikir hanya mengurusi urusan mereka sendiri. Kudapati mereka berpelukan satu sama lain, mencoba saling menguatkan. Pun, mereka juga seperti habis menangis. Namun, apa peduliku?

Tiba-tiba, kudengar suara Ayah mengigau, "Putri, jangan pergi, Putri. Ayah sayang Putri. Maafkan Ayah yang sering tidak mempedulikan Putri. Ini semua salah Ayah. Maafkan Ayah, Putri..." Huh, selama ini ke mana saja, Yah? ejekku dalam hati. Menunggu anak gadismu satu-satunya ini sekarat dulu baru peduli?

Kemudian, aku mendengar suara di sisi ranjangku. Ibu mengigau juga, bahkan lebih keras seraya terisak. "Putri, jangan tinggalkan Ibu, Nak! Maafkan Ibu telah lalai! Ibu tidak pernah peduli padamu, maafkan Ibu!" Aduh Ibu, siapa suruh punya anak gadis tidak diurus. Hanya mengurusi arisan tidak jelas. Marah-marah melulu. Harus menunggu anakmu hampir mati dulu baru bisa sadar diri? balasku dalam hati. Sungguh kesal aku.

Tiba-tiba, elektrokardiogram di meja di sebelah ranjangku berbunyi nyaring. Kulihat, garis yang tadinya bergelombang mengikuti detak jantungku perlahan menunjukkan garis lurus saja. Semua orang yang ada di ruanganku langsung tersentak bangun, kaget. Ibu langsung menekan tombol darurat pemanggil suster. Tak lama, beberapa dokter dan suster merangsek masuk ke kamar dan memeriksa kondisiku. Kulihat semua orang menangis keras dan menyebut-nyebut namaku. Salah satu dokter yang mengecek keadaanku menggelengkan kepala, sedih. Keluarga dan sahabat-sahabatku semakin keras menangis.

Jadi, dari tadi aku...

Dunia selalu saja tidak adil. Selalu saja ada orang-orang yang lebih diperhatikan dan dipedulikan. Dan terkadang aku berharap, sekali seumur hidup saja, ada yang mempedulikanku.

Namun, haruskah kepedulian dibayar dulu dengan kematian?

0 komentar:

Posting Komentar