Senin, 14 Desember 2015

Kualitas

Kadangkala kita tidak yakin dengan pasangan kita, apakah ia akan tetap setia atau tidak, apakah ia akan macam-macam di belakang kita, dan sebagainya. Kita tidak perlu, sebenarnya, untuk terlalu curiga dengan mereka. Jika mereka memang punya kualitas yang baik, tentu mereka tidak akan macam-macam sekali pun kita tidak sedang bersama mereka. Akan tetapi, jika kualitas mereka memang buruk, maka kita sudah tahu apa yang akan mereka lakukan di belakang kita. Sama halnya dengan ketika kita membeli makanan olahan pabrik atau makanan apa pun yang kita beli di luar. Jika memang kualitas pabrik atau penjual itu baik, maka mereka akan menjaga mutu dari produk mereka walaupun kita tidak tahu bagaimana proses pengolahan produk tersebut. Sedangkan, ketika mereka memiliki kualitas yang buruk, maka hanya Tuhan dan para pengolah makanan itu yang tahu apa yang mereka masukkan ke dalam produk mereka.

Ketika kita membeli sebuah merk tertentu dari makanan olahan yang kita suka, kita pasti akan langsung yakin apakah makanan tersebut memang layak makan dan halal. Kita tidak perlu memastikan ke pabrik pembuatan makanan tersebut karena sudah pasti barang yang sampai ke toko sudah melalui serangkaian standar uji kendali mutu produk tersebut. Sehingga, barang yang sampai pada pelanggan sudah pasti kualitasnya baik. Pabrik hanya perlu memberi keterangan pada bungkus produk seperti kapan barang mereka kadaluarsa, apa saja yang terkandung dalam makanan tersebut, kehalalan produk tersebut, dan lain sebagainya. Pelanggan tidak perlu merasa takut, ragu, bahkan khawatir apakah makanan tersebut diselipi sesuatu yang aneh-aneh dan berbahaya karena percaya pada pabrik yang membuat makanan tersebut. Pelanggan percaya bahwa pabrik tersebut tidak akan membahayakan mereka atau merugikan mereka, dan pelanggan percaya dengan kualitas barang tersebut.

Saat beberapa oknum mungkin melakukan hal merugikan dan berbahaya bagi pelanggan, maka tentu yang salah adalah oknum tersebut. Mereka dengan sengaja berusaha menguntungkan diri sendiri dengan cara merugikan pelanggan yang sudah yakin dan percaya akan kelayakan produk yang dijual. Karena adanya kasus-kasus semacam ini, maka pelanggan pun semakin waspada dan semakin selektif dalam memilih produk yang akan dikonsumsi. Mereka akan semakin mencari tahu produk yang akan mereka makan dan melihat kualitasnya, apakah bagus atau tidak.

Serupa dengan hal di atas, mempercayai pasangan juga harusnya seperti itu. Kita sudah tau baik buruknya pasangan kita sejak awal dan percaya bahwa mereka akan selalu jujur. Kita tidak harus selalu mengekor untuk tahu apa yang mereka lakukan, dengan siapa mereka sedang berada, di mana mereka berada, dan lain sebagainya. Cukup dengan pesan atau kabar singkat yang dapat memberi kita cukup informasi mengenai keberadaan mereka. Kita tidak perlu takut mereka akan melakukan apa di belakang kita. Justru, ketika mereka macam-macam, itu sebenarnya sudah menunjukkan kualitas diri mereka sendiri. Ketika ada saja dari orang-orang tersebut yang kemudian melakukan kesalahan atau penyelewengan di belakang kita, tentu saja kita akan menjadi waspada. Kita pun tahu kualitas yang sebenarnya dari mereka. Maka, hal itu akan membuat kita lebih berhati-hati dalam memilih pasangan di masa depan.

Maka dari itu, agar dianggap sebagai pabrik yang dapat dipercaya, pabrik tersebut harusnya menjaga kualitas produk yang mereka jual. Dengan begitu, pelanggan tidak akan ragu dan akan terus menggunakan produk mereka. Sejalan dengan hal itu, kita sebagai manusia harus terus menjaga kualitas diri kita. Jangan membuat pasangan kita ragu dengan kualitas diri kita. Kita tidak mau, 'kan, dianggap memiliki kualitas yang buruk dalam percintaan?

Jadi, sudah sejauh mana kamu menjaga kualitas dirimu? 

0 komentar:

Posting Komentar