Rabu, 30 Desember 2015

Kekhawatiran

sumber gambar
Pertama-tama, aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk Adik Besar. Entah umurmu berapa sekarang, Dik. Maaf, aku bukan kakak yang baik. 20, ya? Selamat bersenang-senang di awal usia kepala dua, walaupun aku tahu kamu sudah lebih bersenang-senang daripada aku di usiamu yang bahkan saat itu belum genap 20 tahun. Kedua, dua hari lagi kita akan beranjak ke tahun 2016. Semoga apa pun yang belum sempat diselesaikan pada tahun 2015 akan dapat diselesaikan di tahun depan. 365 hari adalah jumlah yang cukup banyak untuk hanya dibuang sia-sia.

Baiklah, cukup dengan selingan di atas.

Suatu sore, aku menceritakan isi hatiku kepada seorang sahabat melalui aplikasi pesan singkat. Aku mengatakan banyak hal yang kukhawatirkan beberapa hari terakhir (bahkan, jika boleh jujur, sudah lama sekali). Memang, aku terlihat tidak peduli dengan masalah yang menghinggapi. Tetapi, sebenarnya aku bukanlah orang yang benar-benar bisa tidak peduli begitu saja. Tetap saja akan ada pikiran-pikiran tentang berbagai masalah tersebut hingga mau tidak mau aku akan terus khawatir. Terkadang malah sampai terbawa mimpi saking aku terlalu memikirkannya. Tidak baik, memang. Dan untuk orang yang lebih sering tidak bisa mengendalikan pikirannya sendiri, aku bisa mengatakan bahwa aku cukup akut dalam masalah ini. Bila sampai terlalu kepikiran, bisa-bisa aku tidak akan tidur selama dua sampai tiga hari, bahkan akan mengganggu sampai berminggu-minggu.

Setelah puas bercerita, sahabatku kemudian mengatakan hal yang menghibur dan, terlebih, menyadarkanku. Ia mengatakan bahwa semua yang aku khawatirkan itu tidak nyata. Tidak ada yang benar-benar terjadi. Tidak ada yang benar-benar perlu dikhawatirkan. Semua ketakutan itu tidak ada, dan kekhawatiranku seharusnya tidak diperlukan. Semua skenario yang aku khawatirkan itu hanya ada dalam pikiranku saja, dan aku tidak perlu takut akan hal yang sebenarnya tidak ada. Ia benar. Aku hanya sedang kalut. Kekhawatiranku tidak terjadi. Mereka tidak nyata, dan aku bahkan tidak harus memikirkan semua skenario itu. Jika terus diberi kesempatan untuk tetap ada dalam pikiran, maka semua skenario bayangan itu akan terus menghantui. Lebih parah lagi, ia akan menguasai dan bahkan memperburuk keadaan diriku sendiri. Aku harus menguasai diri agar tidak termakan kekhawatiranku sendiri.

Kekhawatiranmu tidak pernah terjadi. Kekhawatiranmu tidak pernah ada.

0 komentar:

Posting Komentar