Rabu, 30 September 2015

Menyindir

sumber gambar
Aku tahu bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang mayoritas masyarakatnya menganut budaya ketimuran. Salah satu budaya ketimuran yang dianut oleh masyarakat Indonesia adalah kebiasaan untuk tidak menyatakan apa yang mereka mau atau tidak suka secara langsung. Mereka biasa melakukan hal itu atas dasar kesopanan. Kira-kira seperti, "Nanti jika aku bicara seperti ini ke orang lain, mereka akan sakit hati. Aku jadi tidak enak sendiri."

Sebenarnya hal tersebut sah-sah saja dilakukan. Akan tetapi ketika hal tersebut menjurus ke hal-hal yang tidak baik, semisal adanya kejahatan yang berlangsung tetapi tidak dihentikan, ini akan menjadi hal yang buruk sekali. Sudah berapa banyak hal-hal buruk yang harusnya bisa dihentikan di negeri ini, akan tetapi tidak bisa dihentikan karena dasar "tidak enak hati" dan "kesopanan"?

Tidak salah sebetulnya menegur orang lain yang melakukan kesalahan secara langsung. Namun, masyarakat Indonesia yang menganggap hal tersebut sulit dilakukan malah melakukan hal lain, yaitu dengan menyindir. 

Menyindir sudah menjadi tradisi tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Tanpa harus mengatakan hal yang tidak disuka kepada orang lain, mereka cenderung mengatakan hal itu tidak di depan orang-orang yang dimaksud agar orang tersebut menjadi sadar dengan sendirinya. Dengan kemudahan akses pada media sosial pula, menyindir jadi lebih mudah. Tidak perlu merasa tidak enak hati kepada orang-orang ini, mereka pun bisa dengan lega menyatakan ketidaksukaan mereka.

Menyindir berbeda dengan nyinyir, walaupun akhir-akhir ini nyinyir seringkali digunakan untuk menggantikan kata menyindir. Menurut KBBI daring, menyindir adalah mengkritik (mencela, mengejek, dsb) seseorang secara tidak langsung atau tidak terus terang, sedangkan nyinyir adalah mengulang-ulang perintah atau permintaan; nyenyeh; cerewet.

Menyindir memang sebuah kegiatan yang melegakan. Akan tetapi, kebanyakan sindiran yang dilontarkan ternyata tidak tepat sasaran. Sebuah sindiran bisa saja mengenai orang lain dan malah tidak membuat orang yang dimaksud tersadar. Entah orang lain lebih peka daripada orang yang dimaksud, atau memang orang yang dimaksud tidak peka dan tidak merasa sama sekali. Sehingga, kebanyakan orang yang terkena sindiran merasa marah kepada orang yang menyindir, padahal mereka tidak tahu pasti kepada siapa sindiran tersebut ditujukan. Hal ini menjadi amat sangat konyol.

Sebagai orang Indonesia yang baik dan berbudi luhur, aku juga terkadang melontarkan beberapa sindiran di media sosial. Akan tetapi, kebanyakan sindiran yang aku tuliskan di media sosial akhirnya tidak terkirimkan dengan benar kepada orang-orang yang kutuju. Malah orang lain yang merasa tersindir. Aku pun pada akhirnya berpikir bahwa hal itu sangat konyol bagiku dan orang yang tersindir. Tujuan tidak tercapai, malah menambah musuh.

Menjadi terlalu peka terhadap sindiran pun tidak enak sama sekali. Aku seringkali merasakan sindiran banyak orang entah di media sosial maupun dunia nyata. Biasanya aku akan menanyakan kepada diriku sendiri, apakah sindiran itu memang dimaksudkan untukku atau tidak. Serta, apakah aku pernah melakukan hal yang disindirkan tersebut atau tidak. Memang terkadang sindiran itu menyakitkan hati. Akan tetapi, ternyata sindiran itu menjadi pengevaluasi yang baik bagiku. Secara tidak langsung aku akan memikirkan apakah ada yang salah pada sikap atau perkataanku dan berusaha memperbaikinya. Pun, ketika sindiran itu ternyata tidak ditujukan padaku, aku bisa menjadi orang yang lebih baik dengan evaluasi yang telah aku lakukan. Namun, ketika sindiran itu memang ditujukan padaku dan aku merasa aku tidak melakukan apa pun sebagai sebab dari adanya sindiran tersebut, aku akan cuek saja dengan itu.

Apakah sebaiknya sindir menyindir tetap menjadi hal yang lumrah di Indonesia?

0 komentar:

Posting Komentar