Minggu, 27 September 2015

Ego

Setiap pasangan pasti pernah bertengkar karena satu masalah ini. Ya. Ego selalu menjadi salah satu dari sekian penyebab gagalnya hubungan. Keinginan kuat untuk mempertahankan diri dan argumennya serta tidak mendengarkan apa yang pasangan mau, itu ego. Ego selalu tentang diri, selalu tentang individualisme, selalu tentang 'saya' tanpa ada 'kamu' dan yang lainnya.

Ketika ego lebih kuat daripada keinginan untuk mengalah, wajar jika suatu hubungan menjadi kandas. Ketika ego diagung-agungkan, segalanya menjadi salah dan hanya dirinya sendiri yang benar. Yang lain harus kalah, dan dia yang harus menang. Ego menjadi momok yang ditakuti, tapi secara tidak sadar selalu diberi 'makan' sehingga tumbuh kuat serta tak terkalahkan oleh hati. Keinginan atas dasar logika selalu menjadi makanan yang kuat bagi ego, dan mengesampingkan orang lain menjadi hidangan utama.

Apakah sehat jika dalam suatu hubungan lebih mengutamakan ego dibanding perasaan pasangan? Kebanyakan orang tidak memikirkan tentang hal ini. Ketika merasa lebih kuat, pria bisa saja mengutamakan egonya daripada perasaan wanitanya. Ketika merasa tersakiti, wanita bisa saja mengutamakan egonya daripada melanjutkan hubungan dengan prianya. Semua tentang ego. Lalu, untuk apa memiliki pasangan jika lebih mengedepankan ego?

Ketika ego mulai maju dan memainkan peran, sebaiknya segera ditekan. Ego tidak baik jika melulu dielu-elukan, dibiarkan berkeliaran seenaknya saja. Lebih baik mengalah sementara untuk menang di akhir. Bukan, bukan memenangkan ego. Ada hal yang jauh lebih penting untuk dimenangkan, yaitu keberhasilan dalam menahan ego dan mempertahankan hubungan.

Tidak ada yang lebih baik daripada menahan ego.

0 komentar:

Posting Komentar