Selasa, 18 Agustus 2015

Sakit

sumber gambar
"Ketika Dinda sakit, itu tandanya Tuhan sedang sayang dengan Dinda," ujar Ayah lembut sembari mengusap dahiku yang menghangat. Aku berkernyit, menampakkan ketidakpahaman dan ketidaksetujuanku dengan ucapan Ayah barusan.

"Kok bisa, Yah? Kan, Dinda jadi tidak bisa melakukan apa-apa. Dinda jadi kepayahan untuk membantu Ayah dan Bunda. Masa' tanda sayang Tuhan ke Dinda seperti itu?" aku menuntut jawaban. Ayah tersenyum.

"Lho, justru itu, Dinda sayang. Tuhan ingin Dinda istirahat, tidak melakukan terlalu banyak pekerjaan. Jadi, karena Tuhan tahu Dinda adalah anak yang baik dan berbakti kepada Ayah dan Bunda, Tuhan memaksa Dinda untuk istirahat barang sejenak. Lagipula..." Ayah berhenti sejenak, mengambilkan gelas di atas meja di samping tempat tidurku serta obat yang sudah disediakan Bunda sejak tadi untukku, kemudian melanjutkan, "sakit itu menghapus dosa."

"Bagaimana bisa, Yah?" Kejarku. Ayah tertawa.

"Duh, putri Ayah ini, tidak sabaran sekali. Sekarang, coba dipikirkan bersama, Dinda tidak bisa melakukan apa-apa karena sakit. Jika Dinda bersabar atas sakitnya Dinda ini dan terus berdoa kepada Tuhan, maka Tuhan akan menghapus dosa-dosa Dinda dan memberikan pahala sebagai ganjarannya." Ayah mengambil kembali gelas yang sudah selesai kutandaskan isinya, lalu menaruhnya kembali ke atas meja. Aku pun mengangguk-angguk tanda mengerti atas penjelasan Ayah.

Penjelasan yang selalu kuingat hingga sampai lima belas tahun kemudian.

Kini, ketika aku sakit, tidak ada lagi Ayah yang akan menghiburku dengan kalimat-kalimat mutiaranya. Tangan besar hangatnya tidak lagi bisa menyentuh dahiku yang memanas. Aku akan menggigil sendirian di dalam selimut tebalku, menyiapkan obatku sendiri, lalu tertidur sambil mengatakan kepada diri sendiri bahwa Tuhan sedang sangat menyayangiku sehingga aku harus berbaring di atas tempat tidur selama lima hari.

Hari ini, aku pulang ke apartemenku dengan sakit di dada. Nyeri, sesak, rasanya seperti tertohok. Aku tidak dapat mendefinisikan sakit ini, tetapi rasanya sangatlah sakit.

Tuhan, mungkinkah aku akan mati setelah ini? tanyaku dalam hati sembari terus mencengkeram bagian yang sakit. Aku mandi, berganti baju, dan makan malam dengan rasa yang tidak mengenakkan. Badanku menggigil, tetapi tidak panas seperti saat aku demam. Aku merasa bisa berdiri dan melakukan banyak hal, tetapi tubuhku menolak dan lebih memilih untuk berbaring. Makan malam pun terasa hambar walaupun aku tahu pasti aku tidak mengalami sakit yang terlalu parah seperti biasanya. Meski begitu, aku terus memaksakan diri untuk melakukan banyak aktivitas sampai larut malam.

Aku baru saja menyelesaikan tumpukan pekerjaan kantorku saat jarum pendek dan panjang jam dinding kompak berhenti di angka 12. Tengah malam, aku harus tidur. Besok pagi, aku harus segera bangun dan berangkat ke kantor, sebuah rutinitas yang biasa sekali untukku. Namun, kali ini menjadi tidak biasa dengan sakit yang dari tadi bercokol di hatiku. Aku pun berbaring, mencoba memejamkan mata dan menyuruh diriku tidur, tetapi tidak ada hasilnya. Aku tetap terjaga sampai jam satu malam.

Tiba-tiba aku menangis.

Sebelumnya, aku tidak pernah menangis karena kesakitan. Separah apa pun sakit yang aku derita tidak akan sampai membuatku menangis. Namun, sakit ini berbeda. Aku benar-benar tidak kuat. Aku menangis dengan kencang dan tak tertahankan. Sampai kemudian ponselku berbunyi tanda ada telepon masuk. Seketika kusambar ponselku dari atas meja dan kulihat siapa penelepon tengah malam ini.

Bunda.

"Halo, ada apa, Bunda? Kok, tengah malam begini menelepon?" Tanyaku, khawatir terjadi sesuatu kepada Bunda.

"Entah mengapa Bunda malam ini tidak bisa tidur. Tiba-tiba Bunda terpikirkan Dinda. Dinda baik-baik saja di sana, nak?" Bunda malah balik bertanya. Aku mulai terisak lagi ketika ditanya seperti itu.

"Bunda... Putra, Bun... Dia... Dia selingkuh dengan teman sekantor Dinda..." jawabku di sela isak tangisku. Bunda menghela napas berat.

"Benar berarti, ada yang aneh sejak pertama Bunda melihat Putra. Hati Bunda tidak setuju dengan Putra. Namun, jika Dinda bahagia bersama Putra, Bunda rela. Tetapi, akhirnya malah jadi seperti ini. Maaf, Bunda tidak mengatakan kepada Dinda sejak awal," Terdengar sesal di balik suara Bunda. Tangisku mulai mereda.

"Tidak apa-apa, Bunda. Namun, Dinda ingin bertanya. Hati Dinda sakit sekali saat mengetahui hal itu. Dulu, Ayah berkata bahwa Tuhan sedang sayang Dinda saat Dinda sakit. Ayah juga mengatakan bahwa dosa Dinda akan berkurang saat Dinda sakit. Apakah sakit di hati Dinda juga termasuk dalam hitungan?" Tanyaku polos seperti diriku saat berusia sepuluh tahun.

"Tentu saja, Dinda. Tuhan tentu sangat sayang kepada Dinda ketika Dinda mengalami sakit dan masa sulit. Untuk kasus Putra ini... Bunda bisa berkata bahwa Tuhan benar-benar sayang dan berusaha melindungi Dinda," jawab Bunda dengan bijak. Aku mengernyit, tanda tidak paham.

"Bagaimana Tuhan bisa benar-benar sayang dan berusaha melindungi Dinda, Bun? Mengapa Tuhan memberi sakit hati ini kepada Dinda jika Ia benar-benar berusaha melindungi Dinda?" Tanyaku menuntut, sama seperti lima belas tahun yang lalu.

"Duh, putri Bunda ini, tetap tidak sabaran," Bunda tertawa, kemudian melanjutkan, "begini, Dinda sayang. Tuhan sedang berusaha memberi tahu Dinda bahwa Putra itu pria yang tidak baik untuk Dinda. Saat ini, Tuhan mencoba mengingatkan Dinda agar ke depannya Dinda tidak mengalami sakit hati yang lebih parah dari ini. Malah enak, kan, diingatkan sekarang daripada diingatkan nanti?"

Aku merasa kalimat Bunda ada benarnya. Tanpa sadar, aku mengangguk, kemudian teringat bahwa Bunda ada di seberang telepon. Aku segera berterima kasih kepada Bunda, mengingatkan Bunda untuk segera tidur karena sudah terlalu larut, kemudian menutup telepon.

Terima kasih, Tuhan, ucapku sebelum tidur. Kau memang benar-benar menyayangiku. Maaf jika selama lima belas tahun ini aku masih sering salah sangka atas sakit yang Kauberikan.

0 komentar:

Posting Komentar