Selasa, 25 Agustus 2015

Menyatakan

sumber gambar
"Cinta dalam diam itu tidak ada," ucap Tania. Terdengar keyakinan dalam suaranya. Aku hanya tertegun. Aku yang semenjak tadi telah menceritakan keluhanku kemudian hanya terdiam mendengar kalimat pertama yang ia lontarkan setelah ia lama terdiam mendengarkan keluhanku.

"Cinta itu dinyatakan, dilakukan, dan diperjuangkan. Bagaimana mungkin ada orang yang bisa memendam cintanya sendiri?" Ia kemudian meraih cangkir espressonya sambil memandangku.

"Emm... Ya aku ini..." jawabku ragu. Tania menggeleng dengan kuat.

"Begini, ya, Lia sayang. Masa', sih, kamu tidak ada keinginan untuk memiliki orang yang kamu cintai? Masa', sih, kamu tidak ada keinginan untuk menunjukkan rasa sayangmu padanya? Masa', sih, kamu betah terus-terusan memendam apa yang kamu rasakan sendiri? Pasti ada rasa di dalam hatimu untuk ingin dicintai juga oleh orang yang bahkan tidak tahu kamu telah menaruh rasa ke dia, kan?" Dengan cepat, Tania memberuntunku dengan pertanyaan. Aku tergagap.

"Aku... Aku..."

"Pasti ada, kan? Aku yakin itu. Sampai berapa lama kamu akan menyimpan rasamu itu sendiri? Lebih baik, segera nyatakan atau buang saja jauh-jauh perasaan itu."

Solusi yang sangat menggelitik akalku yang mulai tidak waras. Bagaimana mungkin aku bisa menyatakannya? Lebih tidak mungkin lagi untuk membuang jauh-jauh perasaan itu.

"Aku tidak bisa..." jawabku pelan. Ia mendengus.

"Lia, Lia, Lia. Semakin kamu pertahankan rasa cinta tak terbalas itu, kamu akan semakin sakit. Apalagi jika kamu nantinya melihat orang yang kamu cintai itu bersama orang lain. Jika kamu memang benar-benar cinta pada orang itu, nyatakan saja. Tidak ada ruginya. Pun jika kamu ditolak, kamu akan tahu kapan saatnya harus berhenti mencintai dia, sehingga kamu tidak perlu membuang waktu untuk memikirkan dia lagi." Ia meneguk espressonya, kemudian melanjutkan, "Mencintai itu butuh keberanian, tidak hanya perasaan."

Aku mengangguk. Seketika aku membulatkan tekad untuk segera menyatakan apa yang aku rasakan kepada orang yang aku cintai itu.

Malam harinya, aku menemui Candra, orang yang kucintai dalam diam itu. Aku gemetar hebat, bingung harus memulai dari mana.

"Ada apa, Lia? Kok, kamu bingung begitu. Kamu sakit?" tanyanya lembut. Oh, aku sangat mencintai suara itu.

"Tidak, aku tidak apa-apa, kok. Emm... Aku... Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Kudengar getaran di suaraku sendiri. Sialan, aku harusnya lebih kuat dari ini. Ia memandangku bingung, kemudian berkata, "Silakan."

"Emm... Sebenarnya, dari lama aku sudah menyukaimu. Dan makin hari, rasa suka itu tumbuh menjadi cinta. Awalnya, aku hanya akan mencintaimu sendiri, tanpa kamu harus tahu. Tetapi, Tania benar, cinta itu harus dinyatakan. Cinta itu butuh keberanian. Ia harus diperjuangkan. Dan sekarang, aku ingin memperjuangkan cintaku." ujarku mantap. Pandangannya semakin menyiratkan rasa bingung.

"Tetapi, Lia... Maaf sekali... Aku tidak bisa membalas cintamu." Suaranya penuh dengan penyesalan.

"Ada apa, Candra? Kamu tidak mencintaiku?" tanyaku? Jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya.

"Talia, aku ini suami Tania. Bagaimana mungkin kamu bisa mencintai suami saudara kembarmu sendiri?"

0 komentar:

Posting Komentar