Kamis, 20 Agustus 2015

Mengajar

sumber gambar
Tadi siang, aku mengajar di sebuah sekolah dasar Islam yang cukup terkenal di Surabaya. Aku mengajarkan bahasa Inggris kepada tiga belas siswa dan siswi kelas satu. Walaupun masih dalam masa percobaan, tetapi kegiatan tersebut cukup menyenangkan dan melelahkan. Pasalnya, aku tidak terbiasa menghadapi beberapa anak kecil sekaligus dan cadangan energi mereka sepertinya lebih banyak daripada yang aku miliki. Aku juga sulit mengambil perhatian mereka untuk terus memperhatikan materi yang aku coba ajarkan karena mereka belajar pada saat mendekati waktu pulang sekolah. Sehingga, mereka sulit berkonsentrasi dan akhirnya mereka melakukan kegiatan yang mereka mau sesuka hati. Pun, konsentrasiku akhirnya berantakan dan kelas berakhir dengan diambil alih oleh guru senior.

Tidak semua orang diberi kelebihan untuk bisa mengajarkan suatu ilmu kepada orang lain, entah dalam kelompok atau kepada individu. Meskipun seseorang diberi kelebihan berupa otak yang cerdas, belum tentu ia dapat mengutarakan apa yang ia maksudkan dengan baik. Begitu pula jika seseorang mungkin memiliki kapasitas otak yang biasa saja, bisa jadi ia memiliki kemampuan berkomunikasi dan mengambil perhatian yang baik. Karena itu, mengajar menjadi sebuah kegiatan yang sulit dan belum tentu dapat dikerjakan oleh orang banyak.

Dulu, aku tidak menyadari bahwa mengajarkan sesuatu kepada orang lain, terutama kepada anak kecil, itu tidak mudah. Aku sering, bahkan sampai semester kemarin pun, memilih mengabaikan pengajar di kelas ketika aku bosan atau tidak tertarik dengan cara pengajar tersebut menyampaikan materi. Aku juga masih sering mengamati dan menilai sendiri bagaimana cara mengajar yang dilakukan oleh pengajar-pengajar yang pernah mengajarku di kelas. Aku tidak sadar akan hal-hal tersebut sampai aku mengalaminya sendiri hari ini. Ketika anak-anak yang kuajar tersebut tidak tertarik, mereka akan bermain sendiri, berbicara sendiri, mengobrol dengan temannya, atau berjalan keliling kelas mencari hal-hal yang bisa menarik perhatian mereka. Aku merasa kecewa dan tidak mampu karena aku tidak diperhatikan ketika berbicara di depan kelas. Padahal, aku merasa aku sudah mencoba melakukan yang terbaik untuk menarik perhatian mereka, tetapi hasilnya tetap nihil. Saat aku pulang, aku bertanya-tanya apakah pengajar-pengajar yang telah mengajarku dari kecil sampai sekarang juga merasakan apa yang aku rasakan tadi saat mereka tidak diperhatikan.

Dari yang aku dapatkan tadi, aku mendapatkan pelajaran bahwa mengajar itu sulit dan tidak dapat dilakukan banyak orang dengan mudah. Hanya orang-orang dengan kemampuan komunikasi yang baik, kreativitas tinggi, dan kesabaran yang besar untuk mengajar, khususnya mengajar beberapa anak kecil sekaligus. Jadi, aku mulai menyadari bahwa aku tidak boleh mengabaikan pengajar yang sedang berbicara di depan kelas, karena aku sudah mengalami itu. Seharusnya aku menghargai mereka dengan cara mendengarkan dengan tekun, bertanya jika diperlukan, dan menjawab jika disuruh. Bukan malah mengobrol dengan yang lain ketika sang pengajar berbicara, bertanya tidak pada saatnya, dan diam saat disuruh menjawab. Sungguh, itu sangat mengecewakan si pengajar. Setidak-tidaknya, mendengarkan pengajar saat beliau mengatakan sesuatu akan membuat mereka merasa dihargai.

Dipikir-pikir, mungkin sebaiknya aku mengajar privat saja. Lebih cocok dengan cadangan energiku.

0 komentar:

Posting Komentar