Senin, 31 Agustus 2015

Belajar

sumber gambar
Saat berangkat menuju kampus tadi pagi, aku melihat ada sebuah mobil yang terlihat baru. Bagian belakang mobil ini ditempeli kertas HVS bercetak tulisan "Mohon Maaf, Belajar" agak besar. Aku cukup kaget dan kagum melihat itu. Sang pengendara, alih-alih menggunakan mobil kursus mengemudi, malah menggunakan mobilnya sendiri. Cukup nekad dan berani.

Jujur saja, aku secara intensif mengendarai motor hanya selama empat tahun terakhir ini. Dan dalam empat tahun ini, aku belajar cukup banyak dari apa yang kulihat di jalanan. Aku belajar bagaimana mendahului kendaraan lain, bagaimana menjadi nekad dan yakin (aku belajar ini terutama dari Mas), bagaimana menahan diri untuk tidak mengklakson kendaraan yang berhenti di depanku (dan lebih baik mendahuluinya atau menunggu sampai kendaraan itu berjalan), bagaimana mengontrol kendaraan saat melaju dengan cepat, dan lain sebagainya. Tidak hanya ketika berkendara sendiri, ketika menjadi penumpang pun aku senantiasa memperhatikan bagaimana sang pengemudi bermanuver dengan kendaraannya. Aku belajar banyak dari setiap pengemudi yang kendaraannya pernah aku tumpangi, baik itu motor atau pun mobil.

Belajar itu tidak terbatas di ruang kelas saja. Justru, ada banyak ilmu yang tidak kita temukan di ruang kelas. Aku menyebut mereka sebagai ilmu kehidupan. Mengendarai kendaraan bermotor pun termasuk salah satu dari ilmu tersebut. Mempelajari ilmu kehidupan bisa dari mana saja, dari siapa saja, dan kapan saja kita menemukannya. Ilmu ini bahkan bisa dipelajari dari kesalahan kita jika kita mau dan sadar dengan itu. Semisal, aku pernah ditegur orang ketika tidak menuntun motorku saat masuk ke gang kecil (yang menurutku masih lumayan lenggang sehingga aku merasa tidak perlu menuntun motorku). Aku belajar bahwa yang dibutuhkan orang itu bukanlah bagaimana caraku membawa motor di gang itu, tetapi bagaimana aku menghormati orang-orang di daerah tersebut dengan cara menuntun motorku.

Belajar membuat kita mengerti selama kita tahu apa yang kita pelajari. Sebenarnya, banyak hal di sekitar kita yang bisa dipelajari maksud dan hikmahnya. Akan tetapi, kita lebih sering tidak sadar dengan hal itu. Kita lebih sering melewatkan apa yang sudah terjadi tanpa menelisiknya lebih dalam, sehingga kebanyakan dari kita kehilangan hal-hal yang mungkin akan kita butuhkan di masa depan. Maka, tidak heran jika mengulang kesalahan yang sama (walaupun menjengkelkan) akan dianggap sebagai hal yang wajar dan lumrah saja, karena banyak dari kita yang tidak cukup mengerti apa yang harus diubah karena ketidaktahuan akan apa yang harus dipelajari.

Aku suka belajar dari banyak orang di sekitarku, siapa pun mereka, dan dari apa pun yang mereka lakukan. Banyak dari mereka yang pastinya tidak sadar bahwa mereka sudah memberiku ilmu kehidupan yang aku butuhkan. Aku melihat, mengamati, dan mengingat hal-hal yang aku perlu pahami dari mereka, entah itu melalui percakapan langsung, chat, atau ketika mereka sedang melakukan sesuatu di sekitarku. Pun seburuk-buruknya hal yang mereka kerjakan, aku tetap bisa belajar dari itu. Aku sungguh berterima kasih kepada mereka karena hal-hal seperti itu tidak akan aku temui di kelas formal.

Belajar memang tidak perlu sesulit itu.

0 komentar:

Posting Komentar