Rabu, 15 Juli 2015

Pencemburu

"Aku tidak ingin berpacaran lagi."

Ia menoleh, seperti agak terkaget.

"Ada apa? Mengapa tiba-tiba kamu berbicara seperti itu?" Ia menatapku lekat-lekat.

Aku memandang langit sore yang berwarna jingga kemerahan. Burung-burung mulai kembali ke peraduannya, muadzin sudah bersiap-siap dengan mik di langgar, dan kami di sini masih duduk sejak tadi.

"Aku merasa berdosa. Aku telah menyelingkuhi Tuhan," jawabku.

"Menyelingkuhi Tuhan bagaimana? Memangnya sekarang kamu menyembah selain Dia?" Nada suaranya tampak bingung. Aku menangkap adanya rasa khawatir dari suaranya. Mungkin ia takut aku menjadi tidak waras.

"Tidak, aku tetap senantiasa mencumbu-Nya di tengah malam. Aku juga masih selalu mencium-Nya di setiap sujudku. Aku masih setia pada-Nya."

"Lalu, maksudmu menyelingkuhi Dia itu bagaimana?" Tanyanya lagi. Ia sangat penasaran dengan omonganku yang makin tidak karuan menurutnya.

"Kamu tahu, ketika aku berpacaran, aku akan sedikit demi sedikit menjauh dari-Nya. Bukan nama-Nya lagi yang kusebut dalam deru napasku. Bukan keagungan-Nya lagi yang kuingat dalam pikiranku. Bukan Ia lagi yang kumasukkan dalam hatiku, melainkan makhluk-Nya yang tidak berdaya. Cintaku seperti bergeser dari-Nya ke makhluk ciptaan-Nya. Padahal aku tahu bahwa Tuhan itu Maha Pencemburu. Tetapi aku malah menyelingkuhinya."

"Lho, tapi kan ada yang disebut dengan hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan makhluk?" Kejarnya. Aku menghela napas.

"Iya, tetapi hubunganmu dengan makhluk ciptaan-Nya itu tercipta karena hubunganmu dengan Tuhan. Kamu cinta makhluk-Nya karena kamu cinta pada-Nya. Seperti ketika kamu menikah atas perintah-Nya, berarti kamu menuruti keinginan-Nya. Kamu cinta pada-Nya, maka kamu menikah sesuai dengan perintah yang Ia mau."

"Namun, bagaimana mungkin seorang majikan mencemburui hambanya? Kita ini hamba-Nya, bagaimana Ia bisa cemburu pada kita?" Tanyanya lagi.

"Kamu harus sadar bahwa kamu itu milik-Nya. Dan selayaknya pemilik, Ia berhak merasa cemburu jika ada orang lain yang berusaha menggantikan posisi-Nya di hatimu. Sama seperti ketika kamu punya kucing. Ketika kucingmu lebih memilih bermain dengan orang lain dan malas bermain denganmu, pasti kamu kesal, kan? Kamu akan berpikir bahwa kamu lah pemilik kucing itu, jadi yang berhak dipilih oleh kucing itu harusnya kamu."

"Begitu ya..."

"Karena Tuhan adalah Sang Pencemburu, Ia bisa melakukan apa saja yang Ia mau lakukan pada hamba-Nya agar mereka kembali mengingat-Nya." Aku mulai menatapnya. Raut wajahnya antara kebingungan tetapi seperti baru saja mendapat setitik cahaya petunjuk.

"Kamu tahu, ketika aku sedang bertengkar sampai akhirnya berpisah dengan mantanku yang terakhir, aku akhirnya menyadari bahwa Tuhan sedang sangat cemburu padaku. Aku terlalu sibuk mengingat hamba-Nya yang satu itu tanpa mengingat-Nya sama sekali. Ia ingin aku ingat pada-Nya. Maka dari itu Ia membuat skenario seperti itu." Lanjutku. Ia mengangguk-angguk.

"Jadi, jangan sampai cinta kita kepada makhluk-Nya mengalahkan cinta kita pada-Nya ya..." Ucapnya. Aku mengangguk.

"Iya, karena Dia lah Sang Maha Pencemburu. Maka dari itu, aku sudah tidak ingin menyelingkuhi-Nya lagi."

0 komentar:

Posting Komentar