Sabtu, 11 Juli 2015

Mempercayai


Aku sedikit mengalami masalah dalam mempercayai orang lain.

Mungkin bukan sedikit. Mungkin lebih banyak dari yang aku sadari.

Kadangkala aku terlalu mudah untuk mempercayai orang lain, terutama saat aku menceritakan kisah-kisah yang kualami. Kadangkala pula aku terlalu tidak percaya pada orang lain walaupun sudah mengenal mereka sejak lama. Antara sangat percaya sekali atau tidak percaya sama sekali.

Seringkali kepercayaanku atas seseorang (atau lebih) tidak beralasan. Asalkan mereka membuatku sangat nyaman menjadi diriku sendiri, aku tidak akan segan menceritakan hal-hal yang biasa kupendam sendiri dalam hati. Jeleknya, aku akan sangat mudah membuka diri untuk menceritakan hal-hal yang tidak seharusnya kuceritakan pada mereka ketika aku sudah terlalu percaya walaupun baru kenal belum sampai sehari. Hanya karena atas dasar nyaman, aku membeberkan semua isi hati dan kepalaku pada mereka dengan senang hati.

Seringkali pula aku tidak bisa mempercayai orang dengan tanpa alasan. Biasanya hatiku akan berbisik bahwa aku tidak seharusnya percaya pada orang ini dan itu. Seketika itu pula aku menutup diri. Aku tidak berani menceritakan apa yang kupendam ketika aku tidak percaya pada mereka. Walaupun sudah kenal lama sekali, jika aku tidak bisa percaya, aku tidak akan menceritakan hal-hal pribadiku pada mereka. Hatiku yang biasanya membuatku berlaku demikian. Aku jadi terlalu curiga dan tidak nyaman ingin menceritakan banyak hal dan ujung-ujungnya kupendam sendiri walaupun aku butuh bercerita.

Mempercayai orang lain itu memang tidak bisa dipaksakan. Mempercayai orang lain itu ibarat merelakan orang lain membaca buku harian paling rahasia milikmu dan kamu berpikir mereka tidak akan mengatakannya pada siapa-siapa. Mempercayai orang lain juga bisa diibaratkan seperti kamu membiarkan orang lain menembak apel di atas kepalamu dan berpikir ia tidak akan meleset. Kamu rela mereka mengetahui isi hatimu. Kamu rela membagi apa yang kamu rasakan pada mereka. Kamu percaya mereka bisa membantumu menyelesaikan masalah, atau paling tidak menjadi pendengar yang baik. Di saat itu pula lah kamu membuka dirimu yang sebenarnya pada mereka.

Namun, seringkali orang tidak menyadari bahwa kepercayaan adalah barang mewah yang tidak bisa didapatkan banyak orang. Mereka menyepelekan kepercayaan yang diberikan orang lain pada mereka dan cenderung menganggap bahwa kepercayaan adalah hal yang biasa saja. Mereka jadi seenaknya sendiri dengan kepercayaan yang telah diberikan. Dan sebagai orang yang terlalu gampang percaya, aku kadang tidak menyadari apakah orang-orang yang aku beri hak istimewa itu akan menyepelekan kepercayaanku itu atau tidak. Hal itu terkadang membuatku menyesal mengapa aku bisa terlalu percaya pada orang lain.

Mungkin terkadang aku juga seperti itu. Akan tetapi bukan menyepelekan kepercayaan orang lain, melainkan lebih kepada pertanyaan, "Mengapa mereka bisa percaya padaku untuk menjadi tempat mereka mencurahkan isi hati?" Aku tidak merasa bahwa aku adalah orang yang seharusnya diberi hak istimewa tersebut. Akan tetapi, aku tidak akan menolak jika ada satu dua orang yang ingin bercerita tentang kisah tergelap mereka. Bagusnya, aku adalah orang yang mudah melupakan masalah orang lain yang dibeberkan kepadaku. Sekalipun ingat, aku tidak tertarik untuk membaginya dengan orang lain karena menurutku mereka tidak perlu tahu. Jadi, aku seringkali tidak akan membocorkannya pada orang lain. Mungkin suatu hari nanti aku akan membuka tempat praktik untuk menerima curhatan orang. Aku sangat menghargai kepercayaan mereka itu. Namun, aku belum tentu akan melakukan hal yang sama kepada mereka. Hatiku yang akan menimbang apakah aku harus atau tidak harus percaya pada mereka.

Akan tetapi, kepercayaanku pada orang lain bisa diubah sesuai dengan sikap mereka padaku. Jika mereka menunjukkan sikap yang bisa membuatku percaya pada mereka, aku akan percaya walaupun awalnya aku menutup diri dari mereka. Tetapi jika mereka menunjukkan sikap yang tidak sesuai hati kecilku, bisa jadi kepercayaanku pada mereka kucabut begitu saja tanpa mereka mengetahuinya. Namun, biasanya orang-orang yang kupercaya atau tidak kupercaya akan merasakan langsung perubahan sikapku ketika aku sudah menaruh atau mengambil hak istimewa mereka tersebut, entah itu semakin cerewet atau semakin diam.

Aku akui, sepertinya aku memang mengalami masalah dalam mempercayai orang lain.

0 komentar:

Posting Komentar