Jumat, 17 Juli 2015

Maaf

sumber gambar

Hari ini, Ramadhan sudah berganti menjadi Syawal. Itu adalah pertanda bahwa hari ini adalah hari raya umat Muslim seluruh dunia, yaitu Idulfitri. Untuk itu, aku selaku penulis dan pemilik blog Narasi Satu Kata ini memohon maaf sebanyak-banyaknya kepada para pembaca dan aku mohon didoakan agar menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.


Idulfitri, selain identik dengan opor ayam, ketupat, dan mudik, identik pula dengan tradisi maaf-memaafkan. Setiap orang berusaha meminta maaf kepada orang-orang terdekat entah melalui pesan singkat, layanan chat, telepon, atau bertemu langsung. Momen ini pun dimanfaatkan banyak orang untuk merangkai kata-kata indah atau lucu untuk meminta maaf, terutama orang-orang yang menggunakan aplikasi layanan chat dan pesan singkat. Namun, sayangnya, kata-kata tersebut tidak dikirimkan secara personal, melainkan disebar kepada banyak orang sekaligus dalam satu waktu. Sehingga, pesan utama yang berusaha disampaikan tersebut tidak terasa spesial.

Seringkali, pasti kita ingin menerima pesan berupa permintaan maaf dari orang-orang tertentu terutama dalam momen Idulfitri. Tetapi, ketika kita menerima pesan yang isinya sepertinya juga dikirimkan pada orang lain (biasanya terlihat dari susunan kalimat dan ketiadaan nama orang yang dituju), kita akan merasa bahwa permintaan maaf itu tidak tulus. Kita akan merasa percuma saja membuat paragraf panjang nan indah tanpa ketulusan berarti untuk meminta maaf. Malah, bisa jadi kita menganggap lebih baik tidak mengucapkan sekalian daripada tidak ada kesan tulus dan spesial dalam pesan tersebut. Kita jadi malas membalas pesan tersebut. Alih-alih, mungkin kita akan menjawab, "Sama-sama, ya!" atau "Aku juga minta maaf ya," tanpa ada obrolan lebih lanjut. Padahal, satu pesan permohonan maaf bisa menghubungkan kembali tali silaturahmi yang mungkin sudah lama tidak tersambung.

Menurutku, ketika kita mengirimkan pesan permohonan maaf kepada orang lain, terutama dalam momen lebaran ini, akan lebih baik jika kita menyebutkan nama panggilan si penerima pesan atau sapaan kepadanya. Mereka akan merasa lebih spesial dan khusus dalam menerima pesan itu, walaupun mungkin isi pesan yang kita kirimkan kepada satu dan lain orang adalah sama. Juga akan ada kesan tulus dalam pesan itu, seolah kita benar-benar meminta maaf hanya kepada orang itu. Mungkin, yang akan terjadi selanjutnya adalah si penerima pesan membalas dengan sukacita, dan tali silaturahmi yang sudah lama terputus pun akan tersambung kembali.

Jadi, jangan malas membubuhkan nama si penerima dalam pesanmu. Bisa jadi itu adalah awal yang baik untuk kalian. Tidak perlu panjang dan bertele-tele. Walaupun pendek, jika terkesan tulus dan khusus, si penerima pesan akan senang dan benar-benar memaafkan kesalahanmu yang mungkin kamu tidak pernah menyadarinya.

Selamat Hari Raya Idulfitri, semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

0 komentar:

Posting Komentar