Selasa, 21 Juli 2015

Dia

sumber gambar
Maafkan aku. Hatiku menginginkan apa yang ia inginkan, itu kamu. Kumohon, kembalilah. Aku sungguh menyesal dengan apa yang telah kukatakan. Kumohon, kembalilah...

Kurasakan denyut di jantungku berlari semakin kencang. Dadaku seperti diremas kuat-kuat oleh seseorang. Sakit. Sesak. Kilatan-kilatan adegan yang tak ingin kuingat bersemburat layaknya cat air berwarna-warni yang dicipratkan ke kepalaku.

Dia.

Aku tahu pesan singkat itu berisi penyesalan yang amat mendalam darinya, gadis cantikku. Namun, aku terlanjur terlalu sakit hati karena tuduhan-tuduhannya. Bahkan, ia sampai hati menyuruhku memilih antara ia dan wanita yang ia cemburui.

Bodoh. Tentu saja aku memilihmu, wanitaku, rutukku dalam hati.

Sayang sekali, ia tidak menyadarinya.

Aku menimang-nimang ponselku, menimbang apakah aku harus membalas pesan darinya atau membiarkannya saja. Aku sudah bisa membayangkan apa yang ia lakukan sekarang. Meringkuk di tempat tidurnya yang nyaman, tempat kami biasa bercengkerama, sembari menyelimuti dirinya dari hembusan pendingin ruangan yang diatur sedemikian dingin dan menangis meratapi apa yang telah ia lakukan. Suatu kebiasaan yang aku hapal dengan pasti, karena biasanya aku akan ada di sana, memeluknya agar ia merasa hangat dan dilindungi.

Seandainya saja aku bisa melakukan itu sekarang. Tapi ia yang membuatku harus menahan diri untuk saat ini.

Sejak kejadian itu, aku pergi dari rumahnya, yang selama ini kuanggap sebagai tempat pulang dan mendapatkan banyak cinta di dalamnya. Aku mengemasi seluruh barangku dan kembali ke apartemenku yang dingin. Kuundang semua sahabatku ke apartemenku agar aku bisa menyingkirkan sejenak semua kejadian itu. Aku minum-minum sampai mabuk untuk melupakan senyum manisnya. Tetapi, yang kuracaukan hanya dia.

Dia, dia, dia. Wanitaku.

Sahabat-sahabatku memahamiku dengan baik. Mereka membuatku tetap berada di alam sadarku dan mencoba memberikan banyak solusi. Aku pun mulai bisa berdiri lagi sampai saat aku menerima pesan singkat itu.

Kumohon, kembalilah...

Kalimat terakhirnya sungguh menghancurkan hatiku. Ia sangat menderita, aku tahu. Aku pun ingin kembali, ingin memeluknya sekali lagi, ingin mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Tapi aku tersakiti, dan ia tidak menyadari betapa sakitnya aku saat ia menuduhku yang tidak-tidak.

Kupandangi ponselku sejenak, kemudian menuliskan beberapa patah kalimat yang semoga akan ia cerna dengan baik dalam kesedihannya.

Aku ingin kita berdua berjalan dalam takdir kita masing-masing dulu untuk saat ini. Maaf, aku egois. Tetapi aku ingin kamu berpikir dan memperbaiki diri, hal yang sama yang akan aku lakukan sekarang. Semoga kamu baik-baik saja di sana, maafkan aku.

Segera kumatikan ponselku setelah pesan singkatku terkirim, kemudian kembali menekuri pekerjaan yang sudah aku tinggalkan beberapa jam yang lalu ketika pesan singkat darinya datang. Agar aku bisa segera melupakan sakit ini.

Dan dia.

0 komentar:

Posting Komentar