Jumat, 26 Juni 2015

Percaya

Aku sangat tahu pasti ia benar-benar mempercayaiku, percaya bahwa aku benar-benar mencintainya. Aku adalah segalanya, begitu katanya. Betapa manisnya.

Bukan salahku jika dia membosankan. Dia hanya seorang perempuan manis yang mudah diperdaya. Dan aku menyukai tantangan. Aku tidak terlalu suka dengan perempuan-perempuan polos seperti dia.

Ia menyadari bahwa dirinya tidak lagi menyenangkan untukku setelah kami menjadi sepasang kekasih. Tetapi, ia selalu berusaha menyenangkanku, walaupun ia tahu tanggapanku hanya datar saja. Tentu, itu melukai perasaannya. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin ia memenuhi kebutuhanku. Apa pun itu.

Kurasa ia pun tidak peduli.

Ia sering berkata bahwa ia percaya padaku. Ia percaya aku tidak akan menduakannya. Ia percaya aku mencintainya. Aku hanya tersenyum datar menanggapi kata-katanya. Untunglah, ia tidak pernah benar-benar dapat membaca pikiranku.

Ia tidak pernah keberatan ketika aku selalu fokus pada ponselku ketika kami kencan. Ia tidak pernah keberatan ketika aku langsung meninggalkannya ketika ia ingin pelukan hangatku sekali lagi. Ia tidak pernah keberatan ketika aku tidak pernah membelikannya hadiah apa pun untuk hari jadi kami. Ia tidak pernah keberatan.

Ia hanya ingin cintaku, katanya.

Sayangnya, itu tidak akan pernah terjadi.

Seminggu yang lalu, aku bertengkar hebat dengannya. Ia secara tidak sengaja menemukan pesan singkat mesra dari kekasih gelapku di ponselku saat kutinggalkan sebentar ke kamar kecil. Ia tidak percaya dengan apa yang kulakukan, katanya waktu itu sambil menangis. Aku hanya tepekur menatapnya. Ia menangis sangat keras. Ia mengusirku pulang. Dan aku pun, tanpa melakukan apa pun untuk menenangkannya, pulang.

Tidak ada kontak darinya sampai hari ini.

Ia mengirimkan pesan singkat yang mengatakan ia ingin aku menemuinya di rumahnya. Mungkin dia sudah kembali percaya padaku. Setidaknya, kepercayaannya padaku masih ada. Aku bisa meminta maaf padanya seperti biasa.

Aku berjalan menuju rumahnya, seperti biasa. Tidak ada orang, katanya, seperti biasa. Sampai di rumahnya, ia sudah menyambutku di depan rumah, tidak cukup biasa kali ini. Tetapi, apalah artinya. Ia pasti sudah memaafkanku.

Ia pun mempersilakan aku masuk ke rumah, dan seperti biasa, kulayangkan ciuman yang ia percaya sangat mesra itu ke bibirnya. Ia menikmatinya. Ciuman yang cukup lama dan hangat.

Bahkan hangatnya terasa sampai perutku.

Eh, apa ini? Perutku terasa perih. Seketika kuhentikan ciumanku dan kulihat ke arah perutku.

Darah. Belati. Apa ini?

Ia menusukku tepat di perut sebegitu dalam?

Kontan kupegang perutku yang berdarah. Kulihat ia dengan tatapan tak percaya. Ia menangis.

"Maaf, aku terlalu percaya padamu dan menyakiti diriku sendiri. Maaf, aku terlalu mencintaimu. Maaf aku harus melakukan ini," ucapnya seraya mencabut belati itu dan menusukkannya lagi ke perutku beberapa kali. Aku mengerang kesakitan, tetapi tak bisa melawan. Kesadaranku pun mulai menipis.

Bahkan sampai titik ini, aku benar-benar tidak percaya ia bisa melakukan itu padaku.

0 komentar:

Posting Komentar