Senin, 15 Juni 2015

Kamu

Aku menggigil. Entah karena suhu ruangan yang terlalu rendah, atau karena tangisku yang tidak bisa berhenti sejak satu jam yang lalu. Aku lelah menangis. Aku lelah memikirkan hal yang tidak harus kupikirkan saat ini.

Kamu.

Kamu selalu tahu bahwa aku terlalu memikirkanmu. Kau adalah pria yang baik. Aku yang bodoh. Aku yang terlalu keras kepala. Kau sudah terlalu sabar menghadapiku. Tetapi, apa yang kuberikan? Hanya rasa sakit hati yang kini bercokol di hatimu.

Aku kembali terisak mengingat hal itu.

Aku melirik ponsel yang tergeletak tak jauh dari tempatku berbaring. Tidak ada pesan darimu. Sama sekali. Air mata kembali mengalir.

Tidakkah kamu mengingatku? Tidakkah kamu tahu bahwa aku sedang sekarat dilanda rindu? Tapi, aku bisa berbuat apa? Aku terlalu takut untuk meraihmu kembali. Terlalu takut untuk menyakiti hatimu lagi.

Tetapi, aku rindu.

Setengah tersadar, aku kembali teringat semua kenangan indah yang pernah menghiasi hari-hariku denganmu. Kau yang begitu baik dan ramah, terlebih kepada semua orang di sekitarmu, membuatku cemburu. Ditambah lagi, banyak wanita yang suka padamu. Akan tetapi, engkau memilihku.

Aku, yang tidak ada apa-apanya ini.

Aku bangga bisa menjadi pilihanmu. Bangga bisa kaupercaya dengan sepenuh kalbu. Bangga bisa jadi tempat ceritamu. Bangga bisa menjadi seorang wanita yang selalu kaubanggakan.

Hingga hari itu tiba. Hari di mana semua itu hancur berkeping-keping.

Aku akan menyalahkan rasa cemburuku kali ini.

Kau menemui wanita itu. Seorang yang sudah sangat lama kukenal. Dan aku tahu pasti ia menyukaimu, yang aku tahu tidak sebesar rasaku padamu. Kau tidak mengatakan tentang pertemuan itu padaku. Dan ketika aku tahu, hatiku sesak. Aku menanyakan pada diriku sendiri, apakah aku sudah tidak begitu menarik perhatianmu? Aku sedih. Sedih akan kenyataan bahwa kau tidak mengatakan yang sebenarnya saat itu. Walaupun pada akhirnya kau menceritakan yang sebenarnya, aku sudah terlalu terbakar rasa cemburu. Kau mengatakan kau tidak melakukan apa-apa. Itu hanya urusan kerja. Aku tidak peduli. Dan aku mengambil keputusan yang pada akhirnya membuatku menyesal.

Aku memintamu memilih dia atau aku.

Aku bodoh, memang. Kau segera mengepak barang-barangmu dan keluar dari rumah. Kau sudah terlalu lelah pada tuduhan-tuduhan tak beralasanku. Aku juga sudah terlalu lelah pada rasa cemburuku.

Kau pergi tanpa tatapan di mataku, tanpa kecupan di bibirku, tanpa salam pada hatiku. Dan aku hanya menatap punggungmu yang berlalu meninggalkan pintu rumahku.

Tidak ada kata perpisahan.

Beberapa hari kemudian, teman dekatmu bertanya padaku tentangmu dan kepindahanmu. Aku menceritakan kejadian yang sebenarnya. Dan ia pun membalas ceritaku dengan cerita tentang pertemuanmu dengan wanita itu.

Cerita yang sangat membuatku menyesal telah memintamu memilih.

Aku pulang ke rumah dengan gontai. Tangis berderai dari pintu taksi sampai di pintu kamar. Aku limbung, tidak kuat. Aku menyesal. Dan kini, aku kehilanganmu.

Aku kehilangan hidupku sendiri.

Aku harus menebus kesalahanku dengan apa? Kecewa dan lelahmu tak akan terbalas, sepertinya. Gengsi pun tak akan menyelesaikan semuanya. Aku pun meraih ponselku.

Maafkan aku. Hatiku menginginkan apa yang ia inginkan, itu kamu. Kumohon, kembalilah. Aku sungguh menyesal dengan apa yang telah kukatakan. Kumohon, kembalilah...

Kemudian kukirimkan pesan singkat itu. Aku kembali menangis. Menangisi kebodohanku, tentu saja. Tetapi, aku tidak membutuhkan balasanmu. Aku hanya ingin mengatakan apa yang ingin kukatakan.

Hatiku menginginkan apa yang ia inginkan.

Kamu. 

1 komentar: