Senin, 13 April 2015

Sabar


Ketika kita sedang mengungkapkan isi hati kita yang tidak karuan kepada teman atau siapa pun yang kita kehendaki, biasanya jawaban paling standar yang mereka berikan jika mereka tidak punya tanggapan bagus adalah, "Kamu yang sabar, ya." Setelah itu, paling tidak kita akan bersungut-sungut dan menggerutu dalam hati, "Aku cerita begini itu untuk meminta tanggapan atau solusi, bukan malah disuruh sabar." Benar, tidak, seperti itu? 

Malah, ketika kita diberi ucapan untuk bersabar seperti itu, kita menjawab, "Ya aku sudah berusaha sabar, tapi bagaimana lagi." Kemudian orang yang kita ajak bicara mungkin hanya memamerkan senyum bingung seraya berkata, "Ya sudah, yang sabar saja." Ya, solusi untuk bersabar lagi. Dan kita pun menjadi semakin tidak sabar. "Aku butuh solusi yang benar-benar solusi, bukan tanggapan untuk bersabar!" keluh kita lagi dalam hati. 

Perlu kita sadari, sebenarnya tanggapan seperti itu tidak serta merta dilontarkan untuk menyenangkan dan menenangkan hati kita yang sedang kalut. Tanggapan untuk bersabar itu dimaksudkan memang agar kita benar-benar bersabar dalam menghadapi masalah yang sedang menimpa kita. Namun, sering kali kita menganggap bahwa lontaran untuk bersabar itu dimaksudkan untuk menyenangkan kita, atau karena mereka memang tidak punya solusi yang cukup bagus untuk diberikan kepada kita. Tidak. Tidak sesederhana itu. 

Ketika kita menghadapi masalah, apakah kita benar-benar sudah bersabar? Mungkin kita malah lupa untuk bersabar. Dengan adanya peringatan dari orang-orang yang kita ceritakan masalah kita pada mereka, kita seharusnya menyadari bahwa keluh kesah kita sebenarnya adalah kelupaan kita terhadap sabar yang kita miliki. Kita lupa untuk bersabar. Parahnya, kita malah menjawab, "Aku, kan, sudah bersabar. Sabarku ini ada batasnya." Itu malah menunjukkan bahwa kita sebenarnya lupa bahwa kita belum bersabar lebih kuat lagi. Ketika kita benar-benar sudah bersabar, pasti kita tidak akan mengeluhkan masalah kita kepada orang lain. Kita akan menghadapinya dengan tangguh dan menyelesaikannya sendiri. Apalagi dengan adanya alasan "sabar itu ada batasnya" malah membuat kita semakin terlihat lemah. Sabar itu tidak berbatas. Pembatas dari sabar kita adalah nafsu yang menguasai kita. Ketika kita bernafsu agar masalah kita selesai tetapi tidak ada usaha lebih dari kita untuk menyelesaikannya, ujung-ujungnya pasti kita tidak akan sabar menghadapi masalah itu. Akhirnya, kita malah beralasan bahwa stok sabar kita ada batasnya, sehingga kita merasa tidak perlu lagi bersabar atas masalah kita tersebut. Padahal, sabar itu tidak berbatas dan yang membatasi adalah diri kita sendiri. 

Maka dari itu, mulai sekarang jangan kecewa lagi jika kita diberi wejangan untuk bersabar oleh orang-orang yang kita ceritakan masalah kita pada mereka. Malah, harusnya kita berterima kasih sudah diingatkan kembali untuk bersabar. Dari situ, kita bisa membangun lagi usaha untuk menyelesaikan masalah kita lebih kuat lagi, dan tentu saja, sembari bersabar. 

Jadi, sudah tidak akan marah lagi jika diberi ucapan, "Sabar, ya?"

0 komentar:

Posting Komentar