Selasa, 07 April 2015

Menyalahkan

Kita tidak sadar bahwa sedari kecil, kita telah secara tidak langsung diajarkan untuk memiliki mental menyalahkan. Seperti misalnya, ketika kita terjatuh akibat berlarian tak tentu arah, ibu kita akan cenderung berkata, "Kamu, sih, tidak hati-hati! Makanya, jangan berlarian seperti itu!" dengan nada keras daripada berkata, "Ya sudah, ayo kita bersihkan lukanya. Lain kali jika berlarian hati-hati, ya, Sayang. Kalau bisa, sih, jangan berlarian. Sakit, 'kan, jika terjatuh?" dengan nada lembut. Dari sini, kita sudah diajari untuk merasa bersalah dengan apa yang kita lakukan dan menyalahkan apa yang kita lakukan. 

Sampai kita dewasa, kita pun secara tidak sadar membawa mental menyalahkan ini pada kehidupan sehari-hari kita. Kita sering menyalahkan hal-hal yang menurut kita merugikan kita, sehingga kita lebih sering berpikir buruk daripada berpikir baik akan segala sesuatu. Semisal, kita menjemur pakaian dan ia tidak kering karena hujan, kita seringkali akan berkata, "Duh, gara-gara hujan ini bajuku tidak kering-kering!" Padahal, jika kita mau sedikit mengenyahkan mental menyalahkan kita itu, kita akan menyadari bahwa kita tidak perlu menyirami tanaman-tanaman kita yang biasa kita malas untuk menyiramnya. Juga, kita akan menyadari bahwa polusi udara berkurang karena hujan menyapu polusi tersebut. Lebih enak mana, menyalahkan hujan atau menerima hujan dengan senang hati? 

Kita juga seringkali lebih mengedepankan mental menyalahkan kita untuk menutupi kesalahan kita. Seperti misalnya, pengendara motor yang berkendara melawan arus dan kemudian tertabrak oleh mobil. Si pengendara motor ini akan kemudian memaki-maki orang yang menabrak ia ini dan berkata bahwa jangan seenaknya sendiri jika mengendarai mobil. Padahal, jelas-jelas si pengendara motor yang salah. Tetapi apa daya, mental menyalahkan sudah tertanam dalam diri si pengendara motor, sehingga ia cenderung menyalahkan si pengendara mobil daripada berkaca pada kesalahannya sendiri, yaitu berkendara melawan arus. 

Ketika kita bermental menyalahkan, kita akan cenderung berpikir negatif. Ujung-ujungnya, kita tidak akan pernah bisa bersyukur dengan apa yang kita dapatkan. Misalkan, kita diberi orangtua kita motor dan kita mengendarainya termasuk saat musim hujan. Jika kita bermental menyalahkan, kita akan cenderung berkata, "Ayah ini bagaimana, seharusnya aku diberi mobil daripada motor supaya aku tidak kehujanan! Ayah tidak sayang aku!" Padahal, jika kita mau sedikit bersyukur, kita tidak perlu lagi menyetop angkutan umum untuk sekadar pergi ke suatu tempat. Juga, masih banyak anak-anak yang harus merengek meminta dibelikan motor dan orangtuanya ternyata tidak terlalu berkecukupan. Mengapa masih mengeluh dan menyalahkan orangtua yang sudah memberi motor dengan suka rela?

Memang, susah sekali menghilangkan mental menyalahkan ketika kita dari kecil sudah secara tidak langsung dicekoki dengan hal yang semacam itu. Namun, ketika kita sudah dewasa dan bisa berpikir sendiri tanpa harus mengikuti dogma orangtua, kita seharusnya menyadari dan berusaha mengubah itu. Cara paling mudah untuk mengubah mental menyalahkan adalah dengan berkaca pada diri sendiri. Ketika kita memprotes kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak, apakah kita masih menggunakan Premium yang jelas-jelas disubsidi untuk orang-orang tidak mampu sedangkan kita sendiri bisa membeli barang-barang impor dengan harga tinggi? Ketika kita menyesali dosen kita yang memberi kita nilai yang menurut kita tidak memuaskan, apakah kita sudah berusaha dengan baik untuk mendapatkan nilai itu? Ketika kita menyalahkan teman kita yang tidak berbuat baik kepada kita, apakah kita sebenarnya sudah berbuat baik kepada semua teman kita? Dengan menyadari kesalahan kita sendiri, sebenarnya kita bisa mengurangi bahkan menghilangkan mental menyalahkan kita. Semua dimulai dari diri kita sendiri. 

Jadi, masih mau bermental menyalahkan?

0 komentar:

Posting Komentar