Kamis, 02 April 2015

Cantik

Sejujurnya, aku tidak pernah mengerti pengertian dari kata cantik. Sebab, banyak orang mengatakan bahwa cantik itu relatif, tergantung siapa yang melihat dan bagaimana mereka melihat kecantikan itu sendiri. Tetapi, aku masih tidak benar-benar paham, setidaknya untuk diriku sendiri.

Aku sering berpikir bahwa aku tidak cantik. Bukan, tidak sampai merasa seperti itik buruk rupa begitu. Aku hanya merasa aku kurang begitu menarik dibanding dengan wanita-wanita di sekitarku. Aku tidak pernah puas dengan ukuran hidungku yang tidak semancung Ania, bentuk tubuhku yang tidak seindah Laura, warna bibirku yang tidak semerah muda Kania, dan lain sebagainya. Aku kadang sampai merasa lelah dan mencoba masa bodoh dengan apa yang aku dapati ini.

Tetapi, ternyata mengacuhkan kelemahan diri sendiri dan tidak membandingkannya dengan orang lain itu tidak semudah yang kupikirkan. 

Aku mulai sedikit-sedikit mencoba berdandan. Aku mulai mencoba berbagai warna pemulas bibir yang mungkin pantas jika kupakai kuliah, mempertegas bentuk mataku dengan eyeliner, menebalkan alisku dengan pensil alis, memakai bb cream yang sekiranya cocok dengan warna kulitku, dan sebagainya. Setidaknya, kelemahan-kelemahan yang aku punya akan tertutupi dengan riasan yang tidak seberapa ini. 

Sedikit demi sedikit, beberapa teman wanita yang menemuiku di kampus mulai memujiku. Mereka berkata bahwa aku cantik. Benarkah? Aku mulai merasa bahwa inilah pengertian cantik yang benar, yaitu dengan bantuan riasan wajah. Aku merasa senang. 

Tapi tidak dengan Adrian, kekasihku. 

Ia berulang kali mengomeliku dan berpendapat bahwa dandananku terlalu menor. Ah, padahal beberapa temanku sudah berkata aku cantik. Mengapa ia malah berkata bahwa aku menor? 

"Jangan berias seperti itu, dong. Bedakmu terlalu tebal, tuh," keluhnya suatu hari. Aku hanya menggerutu dalam hati dan mengambil tisu untuk sedikit menghapus bedak yang menempel di wajahku. 

"Ya ampun, mengapa kamu memakai baju seperti itu? Norak sekali, sih. Warnanya tidak masuk satu sama lain, lho," keluhnya di hari yang lain. Astaga, maunya apa, sih? Aku, kan, hanya ingin berusaha untuk tampil cantik. Apa salahnya? Aku kesal. Kudiamkan saja. Lama-lama mungkin dia lelah denganku yang tidak kapok berias dan memakai baju yang aneh-aneh saat kuliah. Dia tidak mengomentariku lebih jauh. 

Saat di rumah, aku sedang merebahkan diri di kasur saat sebuah pesan singkat masuk ke telepon genggamku. Kuraih telepon genggamku dan kemudian melihat nama pengirim. Adrian. Aku tersenyum singkat sambil membuka pesan singkat tersebut. 

Maaf sekali ya, Sayang. Aku hanya ingin mengatakan, sebetulnya kamu tidak cocok menggunakan atasan yang kamu pakai tadi jika dipadukan dengan bawahan seperti itu. Tidak cocok. Oh iya, pemulas bibirmu juga terlalu menor untuk dipakai ke kampus.

Huh, masalah dandananku lagi. Aku tidak ingin membalas sebenarnya, aku sudah terlalu capek berdebat dengannya tentang pakaian atau riasanku. Aku tidak mau peduli lagi dengan pendapatnya selama masih ada orang-orang yang berkata bahwa aku cantik dengan pakaian dan riasan seperti itu. 

Tak lama, datanglah sebuah pesan singkat lagi. Masih dari Adrian. Aku membuka dengan sedikit berat hati. Paling isinya kritikan lagi, pikirku. 

Aku tahu kamu tidak akan membalas pesanku yang berisi kritik tadi. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa kamu itu cantik tanpa riasan dan pakaian yang aneh-aneh itu. Kamu itu cantik, dandan sederhana saja sudah membuatku senang. Tidak usah terlalu berlebihan. Selamat tidur, Cantik :* 

Aku tertegun. Benarkah itu? Aku cantik tanpa harus berlebihan? Cukup sederhana saja? Aku semakin bingung. 

Jujur, aku semakin tidak paham. Pengertian dari cantik itu apa?

0 komentar:

Posting Komentar