Rabu, 22 April 2015

Berharga

Aku tidak seharusnya melakukan ini.

Lakukan saja, bodoh. Sebuah suara di kepalaku bergaung. Tidak akan ada yang peduli.

Tapi aku peduli, brengsek. Sergahku. Aku peduli pada diriku sendiri.

Kau memang pengecut. Taruhan kau tidak akan berani melakukannya.

Bangsat, aku berani-berani saja melakukannya. Tetapi aku masih berpikir bahwa masih ada kesempatan untukku...

Hah, terlalu banyak alasan. Kau memang seorang pengecut. Lanjutkan saja, tak akan ada yang mencarimu. Lihat, Papa dan Mama tidak akan menelponmu berulang kali seperti dulu. Mereka sibuk dengan urusan mereka. Toh, mereka pikir kau bukan anak kecil lagi. Bahkan mereka pun tidak ingat kau pernah hidup.

Sialan! Tapi aku masih punya Kak Rei...

Kakakmu itu sudah tidak peduli denganmu. Ia terlalu sibuk dengan dunianya yang sudah berhasil ia gapai dengan mudah. Sedangkan kau? Kau hanya anak buangan yang tidak dianggap. Menurutmu, untuk apa Papa dan Mama mengirimmu jauh-jauh ke sini? Hanya agar tidak melihatmu! Dan menurutmu, mengapa mereka tidak membiarkan kakak kesayanganmu itu keluar dari rumah? Karena mereka menyayanginya dan tidak dengan dirimu!

Aku mulai melemah. Suara itu benar. Aku tidak benar-benar berharga bagi orang-orang di keluargaku. Tetapi setidaknya aku masih memiliki teman-teman yang baik, pikirku lagi.

Kau yakin mereka menganggapmu teman? Suara sialan itu menyahut lagi. Kau yakin mereka bisa dipercaya? Kau benar-benar yakin mereka selalu ada untukmu? Lihat, bahkan untuk keadaanmu yang sekarang ini pun mereka tidak mengingatmu!

Tidak... Aku...

Bahkan kau sudah tidak yakin kepada dirimu sendiri. Sudah, lanjutkan saja.

Aku menangis. Aku memang selalu lemah ketika sendiri. Suara itu makin menekanku. Aku menatap pisau tajam yang sedari tadi kugenggam tanpa berani menggunakannya untuk apa pun. Dunia memang jahat padaku, pikirku. Aku tidak berharga di mata siapa pun, pun di mata dunia.

Kau sudah tahu itu. Sekarang, lakukan saja.

Seakan terhipnotis dengan suara itu, aku menggerakkan pisau itu ke pergelangan tangan kiriku yang luka goresannya baru saja mengering sejak seminggu yang lalu. Suara yang sama yang membimbingku untuk terus melukai diriku sendiri sejak aku masuk SMA. Luka yang sama di tempat yang sama.

Tunggu.

Ada apa? Sergahku. Sekarang kau yang mulai ragu.

Mengapa tidak mencobanya di tempat lain? Jantung, misalnya? Kau akan lebih cepat terbang ke nirwana daripada terus menekannya ke nadi yang tak kunjung membawamu ke surga.

Usulan yang bagus sekali. Aku tidak pernah terpikir hal seperti itu. Akhirnya, kuarahkan pisau itu tepat di dada kiriku, dan mulai kugerakkan dengan perlahan agar aku bisa menikmati sakitnya.

Persetan dengan semuanya. Aku akan segera pergi ke tempat yang mungkin lebih baik untukku.

Darah pun mulai mengalir, dan aku tidak percaya aku seberani itu.

"Kei! Apa yang kamu lakukan?!"

Aku seketika tersadar. Itu bukan suara di kepalaku.

Seseorang mendobrak pintu kamarku dan segera merebut pisau yang sudah mulai menancap dalam di dada kiriku, kemudian melemparnya ke ujung ruangan. Aku segera melihat orang itu.

"Kak Rei?"

"Kamu bodoh! Apa yang kamu lakukan?!"

"Kak Rei, aku..."

"Mengapa kau melakukan hal sebodoh ini?! Mengapa?!" Kak Rei mencoba menahan luka di dada kiriku, kemudian kulihat ia mengambil telepon genggamnya di saku celananya dengan terburu-buru. Setengah tersadar, aku pun melihat Papa dan Mama masuk ke kamarku dengan tiba-tiba dan kemudian memelukku yang terbaring pasrah.

"Kei! Ya Tuhan! Kei! Apa yang kamu lakukan, nak?" Mama menangis, Papa berusaha menghentikan pendarahanku bersama dengan Kak Rei sembari menunggu ambulan datang.

"Kupikir... Kupikir kalian semua sudah tidak mengingatku lagi... Kupikir... Aku tidak berharga bagi kalian..." Jawabku terbata-bata. Mama makin menangis.

"Ya Tuhan, Kei... Kami mencoba meneleponmu tapi tidak bisa. Apakah kau mematikan telepon genggammu?" Tanya Mama. Aku hanya mengangguk lemah.

"Kamu ini benar-benar bodoh, ya! Kami ini sudah menyiapkan kejutan untukmu! Tepat jam 12 nanti, kan, hari ulang tahunmu!" Kak Rei meneriakiku sehingga aku tersadar.

Kejutan...? Ulang tahunku...? Mereka ingat ulang tahunku...?

Seketika penglihatanku menjadi gelap dan aku tidak ingat apa-apa lagi.

0 komentar:

Posting Komentar