Kamis, 12 Maret 2015

Suka

"Aku... menyukaimu," ujarnya tiba-tiba. Aku kaget, hampir-hampir tak dapat bernapas. Tidak salahkah aku mendengar ucapannya itu?

"Apa?" tanyaku untuk meyakinkan bahwa aku tidak salah mendengar apa yang ia katakan.

"Ya, aku menyukaimu." sebutnya lagi dengan tegas. Aku memilin ujung rambut panjangku.

"Tapi... Kita, kan, sudah berteman sejak lama..."

"Dan karena itulah aku menyukaimu. Kamu baik hati, anggun, dan mau menerimaku yang banyak kekurangan ini sebagai seorang teman baik."

"Tetapi..."

"Tetapi kenapa, Nadira? Kau, kan, benar-benar mengerti aku. Kau tahu siapa dan bagaimana aku, kan?"

"Iya, tetapi aku menganggapmu sebagai teman terbaikku, Rio. Maafkan aku..."

"Jadi, kau tidak menyukaiku seperti aku menyukaimu...?" tanyanya. Ada ketidakyakinan dalam suaranya. Aku mengangguk perlahan.

"Maaf, Rio. Tetapi aku akan tetap menganggapmu sebagai teman terbaikku walaupun kau sudah menyatakan perasaanmu itu padaku. Aku tidak akan menjauhimu, aku berjanji."

"Apakah kau bersungguh-sungguh, Nadira? Karena kulihat banyak persahabatan antara lelaki dan perempuan di sekitar kita yang rusak hanya karena lelakinya menyatakan perasaaan mereka..."

"Tidak, Rio. Aku berjanji kita tidak akan melakukan apa yang mereka lakukan. Aku akan tetap menjadikanmu sahabat terbaikku."

"Terima kasih, Nadira. Tapi aku tidak akan berusaha menghilangkan perasaanku padamu." ujarnya meyakinkan. Aku gelisah.

Mohon, jangan menyukaiku, jangan menungguku akan menyukaimu suatu saat nanti, mohonku dalam hati.

"Ya sudah, Rio. Aku harus segera pergi. Aku sungguh-sungguh minta maaf," aku mengucap salam perpisahan. Ia pun mengangguk lalu ia menundukkan kepalanya, menyibukkan diri dengan cangkir kopinya. Aku pun berjalan cepat keluar dari kafe yang kami singgahi ini. Di luar, sudah ada seorang wanita menungguku sembari melihat jam tangannya.

"Lama sekali sih kamu, Sayang. Kamu tidak sadar kamu sudah membuatku menunggu lama?" gerutu wanita itu ketika melihatku di hadapannya. Aku hanya tersenyum.

"Maaf, Melisa sayangku. Aku tadi ada urusan dengan sahabatku. Maaf telah membuatmu menunggu." sahutku sembari mengelus rambut panjangnya. Ia memasang muka cemberut yang sangat imut.

"Ayo kita cepat mencari restoran yang enak, aku sudah lapar, nih!" serunya sambil mengapit lengan kananku dengan lengan kirinya yang kurus. Kekasihku yang manja. Aku mengangguk dan mengajaknya berjalan agak cepat. Aku berharap Rio tidak melihatku dengan Melisa.

Kuberanikan diri menoleh ke kaca kafe beberapa meter di belakangku. Kulihat Rio menatap tajam ke arahku.

0 komentar:

Posting Komentar