Rabu, 11 Maret 2015

Pesan

Aku terjaga malam ini. Aku tidak biasa tidur dengan mata sembab dan pikiran lelah. Anak-anakku tertidur pulas di samping kiri dan kananku setelah menangis dari sore. Kasihan mereka. Mereka tampak kaget dan tidak bisa menerima kepergian ayah tercinta mereka.

Pun aku, istrinya yang sangat mencintainya.

Setelah menutup telepon dari ibu mertuaku tadi siang, aku merasa duniaku selesai. Air mata tak henti-hentinya mengalir sampai aku pusing. Aku berharap aku pingsan saja saat itu, karena sepertinya kepala dan hatiku sangat tidak kuat menerima informasi yang mendadak seperti itu. Tapi, aku tidak pingsan. Aku hanya terduduk di sofa sambil terisak lama sekali. Aku sangat sedih dan kesal. Namun, aku bisa apa? Aku tidak bisa melakukan sesuatu saat ini.

Aku pun mengingat sekelebat informasi yang benar-benar tidak bisa kuterima itu tadi siang.

Pesawat yang ditumpangi suamiku mengalami kecelakaan. Semua penumpang dan awak pesawat itu tidak selamat.

Air mataku kembali mengalir. Tuhan, mengapa kaulakukan ini padaku dan anak-anakku?

Aku kembali membaca pesan singkat terakhir yang ia kirimkan tadi siang.

Sayang, aku sudah sampai. Terima kasih atas cintanya :*

Aku kembali terisak tanpa suara. Bahuku terguncang. Tuhan, ia pasti sekarang sudah sampai di surga-Mu. Tolong beri ia tempat yang terbaik.

Tiba-tiba terdengar suara bel dibunyikan dari depan rumah. Siapa, sih, yang jam segini iseng-isengnya bertamu? Tidak tahu bahwa pemilik rumah sedang berkabung, ya? Namun, tidak ada salahnya jika aku mengecek siapa yang datang. Siapa tahu dari pihak maskapai penerbangan.

Aku berjalan ke arah pintu dengan gontai. Lemas sekali tubuhku, diakibatkan karena pikiranku yang sudah lemas memikirkan suamiku.

Sesosok manusia seketika masuk tepat setelah aku membuka pintu. "Aku pulang!"

Aku seperti mendengar suara suamiku. Aku juga seperti melihat suamiku. Apakah ia ini benar-benar suamiku? Atau dia ini hantu suamiku?

Kupandangi ia lekat-lekat. Setelah sepersekian detik aku tersadar.

Ia benar-benar suamiku! Ia bukan hantu!

Aku pun menghambur ke pelukannya dengan tangis yang keras. Ia kebingungan.

"Lho, kenapa menangis? Kangen ya sama aku?"

Aku masih menangis. Ia mengelus kepalaku dengan lembut seperti yang biasa ia lakukan untuk menenangkanku

"Padahal... Padahal... Pesawat yang kamu tumpangi kan... Kecelakaan..." ucapku terbata. Ia kaget.

"Oya? Wah, aku belum nonton berita sama sekali ketika sampai di sana. Aku langsung menemui klienku tadi. Maaf tidak mengabarimu sama sekali kecuali pesan singkat tadi. Aku benar-benar tidak sempat. Aku juga belum cerita, sih. Tadi aku terlambat ikut pesawat yang kamu bilang kecelakaan tadi..."

"Lho, terlambat? Lalu, bagaimana..."

"Itulah, tiba-tiba ada orang baik yang memberiku tiket pesawat gratis yang berangkatnya lima belas menit setelah pesawatku yang sudah berangkat itu. Jadi, aku tetap bisa sampai di sana," jawabnya sambil tersenyum lebar. Aku menggerutu, "Harusnya bilang dong... Ibu sampai telepon, anak-anak menangis sampai tertidur..."

"Maaf dooong, kan aku buru-buru menemui klienku tadi. Jadi tidak tahu kalau ada berita seperti itu. Maaf ya, Sayang..."

0 komentar:

Posting Komentar