Selasa, 03 Maret 2015

Mawar

"Aku pulang!"

Ia berseru dari pintu masuk. Aku bergegas mengeringkan tanganku setelah baru saja selesai mencuci piring-piring dan gelas-gelas kotor, kemudian setengah berlari menyambutnya di pintu. Ia tersenyum riang saat melihatku, kemudian memelukku dan mencium keningku setelah aku mencium tangannya. Kuambil tas kerja yang ia jinjing di tangan kiri sedari tadi, sedang mataku segera menyadari adanya buket mawar merah yang ia sodorkan tiba-tiba dengan tangan kanannya padaku. Aku tersenyum senang.

"Ada acara apa, nih, tiba-tiba beli mawar segala?" tanyaku malu-malu. Ia memang sangat jarang bersikap romantis. Namun, sekali ia menjadi romantis, aku serasa melayang dibuatnya.

"Tidak perlu acara untuk dirayakan, kan, ketika seorang suami ingin membelikan istrinya yang cantik sebuah hadiah spesial?" ia bertanya balik. Aku makin tersipu.

Mawar-mawar itu masih segar dan cantik. Dengan segera, kupindahkan mereka ke sebuah vas yang memang dari lama sudah kosong karena tidak pernah diisi sekuntum bunga pun. Aku pun kembali mengingat kapan terakhir kali vas ini diisi bunga hidup.

Enam bulan yang lalu, ketika kami bertengkar hebat sampai ia pergi dari rumah selama seminggu lebih.

Aku menepis bayangan buruk tersebut. Sudah cukup. Sekarang ia sudah kembali romantis seperti masa kami pacaran dulu, membawakanku bunga untuk menyatakan maaf dan cintanya padaku.

Ia mandi kemudian kami makan malam. Tidak terlalu istimewa, hanya masakan rumah sederhana yang biasa aku masakkan. Aku memang tidak terlalu pandai memasak seperti ibuku ataupun ibunya, dan kami berdua sering berdebat masalah itu. Aku pikir, toh nanti aku akan terbiasa memasak juga, seperti halnya ia terbiasa bekerja di kantor dengan bosnya yang tidak menyenangkan itu. Tapi kali ini, aku melihat ia sangat menikmati makanan yang kubuat. Aku pun terharu, namun aku sembunyikan air mataku agar ia tidak melihatnya.

"Masakanmu ini sungguh enak sekali, Sayang. Sering-seringlah masak seperti ini," ujarnya di sela ia mengunyah. Pikirku, hampir setiap minggu aku memasak menu yang sama dan ia selalu protes. Namun, hari ini dia memintaku untuk memasak makanan yang selalu ia protes ini sering-sering? Keajaiban macam apa ini?

Aku sempat ragu, ia ini suamiku atau alien yang menyamar menjadi suamiku?

Namun, segera kutepis pikiran konyol itu dan terus menikmati melihat ia makan dengan lahap seperti anak kecil gendut yang suka makan.

"Oh iya, kamu suka mawarnya, Sayang?" tanyanya padaku yang seketika tersentak karena asyik melamun. Aku tersenyum.

"Suka sekali. Aku jarang diberi buket bunga, apalagi mawar merah. Harganya pasti mahal ya...?"

"Tidak apa-apa. Sesekali boleh, kan, suamimu ini memberikanmu sesuatu yang menyenangkanmu?"

"Iya, boleh kok. Terima kasih banyak, Sayang,"

"Sama-sama, Sayang. Katakan saja apa yang kamu mau, kali ini akan kuturuti."

Mungkin ia memang sudah tersadar, pikirku. Ia sudah berubah, tidak kasar dan cuek seperti dulu lagi. Aku pun bersyukur akan perubahannya itu.

"Aku mau menaruh mawarnya ke kamar kita ya, biar bisa terus kulihat ketika bangun pagi," ujarku. Ia mengangguk. Aku pun segera mengambil vas bunga yang tadi kuisi buket mawar merah yang ia berikan dan segera naik ke atas. Aku sangat bersemangat dan tidak sabar untuk segera mendekorasi kamarku dengan buket mawar itu. Saking bersemangatnya, aku berjalan terlalu cepat sehingga aku terantuk anak tangga sebelum yang paling atas dan vas itu terlepas dari tanganku. Vas itu pecah berkeping-keping, air pengisi vas mengalir ke mana-mana, dan buket mawar itu tentu saja berceceran sampai jatuh ke anak tangga paling bawah. Aku bingung, kemudian berusaha mengumpulkan lagi buket mawar yang tercecer dan kepingan vas yang berserakan di sekitarku. Aku bertanya dalam hati, apakah ia tidak mendengar suara vas pecah? Mengapa ia tidak menghampiriku?

Aku pun mulai berhati-hati mengumpulkan pecahan vas terlebih dahulu. Namun, karena aku tidak hati-hati, aku terpeleset air yang tadinya mengisi vas tersebut. Aku limbung, berusaha menyeimbangkan diri tetapi gagal. Aku pun terjatuh ke arah pecahan vas dengan kepala lebih dahulu...

Dan seketika aku terbangun.

Syukurlah, itu hanya mimpi.

Aku melihat sekelilingku. Ternyata aku ada di kamar, tertidur dan bermimpi buruk. Aku melihat ke meja kecil di seberang tempat tidurku. Vas yang ada di mimpiku masih utuh, lengkap dengan buket mawar merah sebagai isinya.

Akan tetapi, mawar-mawar yang aku lihat ini sudah layu. Bukan, bukan layu. Mereka sudah mati dan mengering.

Sudah mati dan mengering sejak suamiku meninggalkanku enam bulan lalu sampai hari ini.

0 komentar:

Posting Komentar