Senin, 02 Maret 2015

Janji

"Aku tidak percaya kita harus berpisah secepat ini..." ujarku sembari menghela napas. Ia tersenyum, kemudian menangkup kedua pipiku dengan tangannya yang besar.

"Hanya sebentar, Sayang. Setelah itu kita bisa bertemu lagi. Aku janji, ketika sampai di sana, aku akan segera mengirimkan pesan singkat padamu."

"Benar, ya? Berjanjilah padaku."

"Iya, aku janji."

Kemudian kami berpelukan, tidak memedulikan setiap orang yang lalu lalang di sekitar kami. Perpisahan di bandara memang selalu berat, tetapi tidak apa. Toh, ia sudah berusaha sebaik mungkin dan sudah berjanji padaku akan mengirimkan pesan singkat setelah sampai di tempat tujuan.

Ini tak akan lama, hanya bertemu klien sebentar, bisikku pada diriku sendiri.

Setelah cukup lama berpelukan, ia melepasku dengan berat hati. Ia menatapku agak lama sambil tersenyum, senyum dipaksakan sepertiku. Kami sama-sama tidak ingin berpisah. Namun, kami harus melakukannya, dan ini seharusnya sudah biasa sekali. Kami sudah melakukannya bertahun-tahun sejak awal pernikahan kami. Hanya karena ia bekerja di luar kota dan aku harus tinggal di rumah demi anak-anak kami, kami harus melakukan ini setiap minggunya. Walaupun sudah terbiasa, tetapi kami masih sama-sama berat hati untuk berpisah meski hanya sebentar, sampai sekarang.

"Aku mencintaimu, Sayang."

"Aku juga mencintaimu." Balasku.

Ia kemudian berjalan masuk tanpa melihat ke belakang lagi. Aku menatap punggungnya sampai menghilang di kerumunan orang lalu kembali ke mobil untuk pulang ke rumah dengan berat hati. Aku merasa tidak enak hati sekali saat itu. Rasanya aku ingin memeluknya lagi dan mengatakan aku mencintainya, lebih lama dan lebih keras. Namun, aku tahu perpisahan ini hanya sebentar, demi kami berdua dan demi anak-anak kami.

Ketika sampai di rumah, aku menyalakan televisi. Aku bosan, dan anak-anak belum pulang dari les tambahan mereka sepulang sekolah. Sudah satu jam lebih, pikirku sembari melihat jam dinding. Seharusnya ia sudah sampai. Aku melirik ponselku. Tidak lama, ada sebuah pesan singkat masuk.

Sayang, aku sudah sampai. Terima kasih atas cintanya :*

Aku tersenyum, sebuah pesan singkat yang seperti biasa, yang ia kirimkan setiap kali sudah sampai tujuan.

Setelah meletakkan kembali ponselku, aku memutuskan untuk menyaksikan televisi yang sudah kunyalakan tadi. Aku mengganti-ganti saluran televisi sampai akhirnya jempolku berhenti memijit remote pada sebuah acara kilasan berita sore yang memuat berita terbaru mengenai kecelakaan pesawat. Semua penumpang dan awak pesawat tersebut diberitakan meninggal.

Dan nomor penerbangannya...

Sama seperti nomor pesawat yang ditumpangi suamiku.

Seketika jantungku terasa berhenti sejenak.
Tapi ia tadi mengirimiku pesan singkat!

Tak lama kemudian, ponselku berdering. Aku segera menyambarnya dan melihat siapa yang menelepon. Ibu mertua.

"Nak... Kamu... Kamu sudah lihat berita di televisi?" tanyanya sambil menangis terisak-isak.

Waktu serasa berhenti saat itu juga. Tetapi, seperti biasa, ia selalu menepati janji.

1 komentar:

  1. Lanjut ke part 2 dong pi' 😁
    Satu kata yang mengena "Janji"
    Buku 📚 apa yang lu baca ni haha

    BalasHapus