Minggu, 22 Maret 2015

Awal

Aku tidak mengerti apakah yang aku alami ini merupakan sebuah kesialan atau sebuah peringatan. Kemarin, laptop kesayanganku yang kupanggil Genduk (Jawa: anak perempuan) tiba-tiba melakukan pemulihan sendiri, dan dengan sendirinya menghapus semua data yang ada di dalam dirinya. Aku bingung, tidak tahu harus apa, dan satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah menuruti setiap langkah yang ada untuk kembali menuntun Nduk (singkatan dari Genduk) ke ingatan lamanya. Tidak berhasil. Yang ada hanyalah Nduk yang masih benar-benar seperti baru. Kosong melompong, seperti kertas yang tidak tercoreti apa pun. Aku tercengang, dan seketika sadar banyak sekali data yang belum tersimpan di hard disk ataupun di cloud. Untunglah data-data kuliahku masih terselamatkan dengan baik karena aku sudah menyimpannya di cloud. Tetapi, data-data lain yang tidak teramat penting seperti foto-foto, lagu, berkas-berkas unduhan yang nantinya mau dipakai lagi suatu saat nanti, bookmarks tautan yang akan kubuka lagi di masa mendatang, fonts dan templates yang sudah kuunduh satu per satu, piranti lunak yang sudah kuunduh dan kupasang dengan sabar, dan lain sebagainya sudah tersapu bersih tanpa sisa.

Bahkan Microsoft Office nya pun ikut hilang.

Awalnya aku kecewa mengapa Nduk bisa mengkhianatiku seperti itu. Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri tidak akan meng-install ulang Nduk sama sekali. Bahkan, aku sempat berpikir berulang kali untuk meng-install versi terbaru dari Windows karena takut data-data di dalam Nduk hilang. Bahkan lagi, aku sampai terpikir untuk tidak mengganti laptop karena aku benar-benar sayang kepada Nduk dan isinya. Ternyata, kali ini Nduk sendiri yang berkehendak seperti itu, dan aku sebagai pemilik hanya bisa mengelus dada melihat tingkah Nduk yang sepertinya sudah muak karena keberatan muatan.

Melihat Nduk yang sekarang seperti melihat Nduk tiga tahun yang lalu, saat aku baru saja masuk kuliah. Bersih tanpa isi. Bedanya, kali ini aku melihat Nduk dengan sesak tak beraturan karena data-data yang aku butuhkan sudah tidak ada lagi. Namun, aku harus segera sadar bahwa data-data tersebut tidak akan bisa kembali lagi, dan yang bisa aku lakukan sekarang adalah tetap menggunakan Nduk apa adanya dan segera meng-install piranti-piranti lunak yang aku butuhkan untuk perkuliahanku. Memang tidak mudah mengulang dari awal, tetapi itulah satu-satunya yang bisa kuperbuat.

Terkadang kita berpikir bahwa ketika kita gagal atau kehilangan sesuatu, hidup kita terhenti begitu saja pada titik itu. Kita merasa tidak mampu lagi melanjutkan apa yang sudah kita mulai sejak lama. Tetapi, hidup tidak akan berhenti begitu saja dan menunggu kita ketika kita menyerah dan memilih untuk tidak melanjutkan hidup kita. Yang ada hanyalah kita yang ingin bangkit lagi atau tidak. Ketika kita tidak ingin lagi memulai dari awal, hidup tidak akan peduli. Waktu akan terus berjalan. Semua orang akan terus menjalani siklus hidup mereka. Sehingga, jangan sampai kita berpikir bahwa hidup akan benar-benar berhenti. Jangan takut untuk kembali memulai dari awal. Memang, awal yang baru tidak akan benar-benar sama seperti awal yang sudah berlalu itu. Tetapi, setidaknya kita sudah menunjukkan kepada hidup bahwa kita bisa bangkit dan tidak menyerah semudah itu.

Sudah banyak cerita tentang kegagalan berbagai orang sukses yang, pada akhirnya, mereka bisa kembali bangkit dan memulai hidup mereka dari awal lagi. Bukan berarti memulai dari awal adalah sebuah ketidakmungkinan, tetapi lebih kepada seberapa percaya kita kepada diri kita sendiri bahwa kita mampu berdiri lagi dengan kepala tegak.

Jadi, sudah siap memulai dari awal lagi?

0 komentar:

Posting Komentar