Jumat, 06 Februari 2015

Sahabat

Aku selalu sulit menemukan sahabat yang benar-benar cocok denganku.

Itu disebabkan karena aku sangat pemilih. Aku memilih orang-orang yang benar-benar bisa kupercaya. Orang-orang yang memiliki pemikiran yang unik. Orang-orang yang memiliki kepercayaan diri dan ideologi yang jarang orang-orang mengerti. Orang-orang yang apa adanya dan tidak ditutup-tutupi. Orang-orang yang bangga menjadi dirinya sendiri. Orang-orang yang mandiri. Dan sebagainya.

Terlalu banyak syarat sebenarnya. Itulah mengapa, aku selalu sulit menemukan sahabat yang benar-benar cocok denganku.

Terkadang aku menjadi sangat naif perihal memilih orang yang cocok menjadi sahabatku. Ingin punya sahabat, tetapi tidak mau memulai lebih dahulu. Terlalu banyak mau, tetapi seringkali tidak menjadikan diri sendiri pantas untuk menjadi sahabat bagi orang lain. Terlalu pemilih, tetapi seringkali tidak bisa jujur. Seringkali pula aku menyia-nyiakan kebaikan mereka yang sudah rela mau dekat dan berbagi hari denganku. Namun, aku melakukan hal-hal yang baik kepada mereka sebisa dan sejauh kemampuanku, mendengarkan curhatan mereka dan memberi saran jika dibutuhkan, dan lain sebagainya. Namun, sepertinya masih kurang. Dan aku menyadari itu.

Mungkin itu disebabkan karena aku selalu sulit menemukan sahabat yang benar-benar cocok denganku. 

Sekalipun aku menemukan sahabat yang sudah cocok di suatu masa, entah masa sekolah atau pun masa kanak-kanak, ia bisa dipastikan akan jarang berkomunikasi lagi denganku jika akhirnya kami berpisah. Entah karena sibuk dengan hidup mereka yang baru, karena sudah memiliki teman-teman atau bahkan sahabat-sahabat baru, atau karena sudah mulai lupa denganku. Tidak masalah jika benar seperti itu, karena aku tidak pernah lupa siapa saja yang pernah benar-benar dekat denganku dan menjadi tempatku menuangkan cerita-ceritaku. Aku hanya berpikir, ingatkah mereka tentangku? Ingatkah mereka bahwa aku pernah menjadi sahabat mereka? Bagaimana perasaan mereka jika bertemu lagi denganku, apakah akan sama seperti ketika mereka masih menganggapku sebagai sahabat?

Sampai akhirnya aku agak takut untuk memulai bersahabat lagi, karena aku selalu sulit menemukan sahabat yang benar-benar cocok denganku.

Jika aku diberi satu kali kesempatan untuk bisa bertemu dengan sahabat-sahabatku, aku ingin sekali memeluk mereka satu per satu dan mengatakan bahwa aku merindukan masa-masa itu, masa-masa di mana kita masih menjadi anak-anak bau kencur yang membicarakan hal-hal tidak penting. Mungkin akan ada air mata rindu dan permohonan maaf karena pernah menjadi sahabat yang menyebalkan, jika perlu. Lalu, aku akan menanyakan kabar terbaru mereka, mendengarkan cerita mereka dengan sungguh-sungguh, pokoknya aku akan benar-benar menghabiskan waktu seharian untuk mereka, untuk menghargai ingatan mereka tentangku yang ternyata masih tetap sama seperti dulu; tetap melihatku sebagai sahabat mereka.

Terima kasih atas waktu kalian untuk sempat mengenalku lebih dalam. Dan maaf jika aku tidak sempat menghubungi kalian lagi. Aku sedikit berharap bahwa tulisanku di atas akan menjadi kenyataan, jika saja dihendaki demikian. Semoga kalian baik-baik saja di mana pun kalian berada. Aku rindu kalian.

0 komentar:

Posting Komentar