Rabu, 18 Februari 2015

Pulang


Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Kepalaku pusing seperti habis terbentur sesuatu. Sakit. Aku tidak dapat mengingat apapun. Sudah berapa lamakah aku tertidur? Satu jam kah? Dua hari kah? Dan di mana aku? Sudah jam berapa sekarang? Aku mendongakkan kepalaku. Ah, sudah malam rupanya. Bintang-bintang berpendar indah di atas kepalaku seperti lampu-lampu kecil untuk mendekorasi kamar adik-adik kembarku. Aku harus segera pulang agar Papa tidak memarahiku.

Papa? Pulang?

Tidak akan pernah. 

Aku baru ingat sekarang. Papa sudah mengusirku dengan sedemikian murkanya setelah pertengkaran hebat kami. Seperti baru saja terjadi, dan suara pekikan kemarahan Papa masih dapat aku dengan sekarang.

Papa tidak menyetujui hubunganku dengan Alisa. Papa juga tidak menyukai karir bermusikku dan menganggap musik adalah sampah yang tidak akan membawa keuntungan bagi siapa pun. Papa adalah seorang yang otoriter, menganggap semua perkataannya adalah benar. Dan sebagai seorang anak laki-laki pertama dalam keluarga, aku harus menuruti caranya. Cara yang ia anggap benar.

Aku muak dengan Papa.

Mama pun seakan tidak membantu. Beliau malah memperkeruh keadaan. Selalu berteriak tanpa kenal lelah dan menyuruh-nyuruhku tanpa jeda, seperti pembantu. Hei, tidak ingatkah kau bahwa aku ini anakmu? Jika tidak dituruti, maka beliau akan mengungkit segala kebaikan yang telah beliau curahkan padaku, seakan-akan jasa beliau amat sangat besar. Ya ya, aku tahu kau yang melahirkanku dan membesarkanku, Ma. Tetapi, dengan cara seperti itu malah semakin membuatku tidak menghormati dan menghargai jasa-jasamu.

Aku muak dengan Mama.

Kaila dan Kila, adik kembarku, juga amat sangat menyebalkan. Mereka senang mengganggu ketenanganku. Cerewet juga. Adik-adik yang tidak berguna.

Aku muak dengan Kaila dan Kila.

Aku muak dengan keluargaku, atau apa yang mereka sebut dengan keluarga itu. Persetan dengan mereka.

Ah, kemudian aku ingat lagi. Setelah aku diusir dari rumah, aku berlari tanpa arah. Aku benar-benar kalut. Aku berpikir akan ke rumah sahabat-sahabatku.

Sahabat-sahabatku? Para pengkhianat tukang memanfaatkan orang itu?

Tidak akan pernah.

Hanya karena aku anak seorang pengusaha kaya raya, mereka mau menghampiriku. Saat aku sedang banyak uang, mereka mengajakku makan-makan di tempat makan terenak di kota. Tentu saja, aku yang membayar. Mereka pun senantiasa mengajakku pergi ke luar kota dengan mobil pribadiku, tanpa membayar uang bensin tentunya. Apapun, sampai ketika aku ingin bercerita tentang bagaimana hancurnya hidupku, dan mereka tidak peduli.

Aku muak dengan sahabat-sahabatku, atau apa yang mereka sebut dengan ikatan persahabatan itu. Persetan dengan mereka.

Sepertinya hanya Alisa yang dapat kuandalkan. Gadis manis penurut itu, harusnya aku bisa menceritakan segala penat hatiku padanya. Akan tetapi, setelah mendapati pesan singkat mesra yang ia kirimkan kepada lelaki lain di telepon genggamnya beberapa hari yang lalu, hatiku hancur. Mengapa ia sangat tega sekali berbuat itu padaku? Padahal aku sangat setia padanya, dan aku tidak pernah lupa tanggal-tanggal penting yang kami tetapkan. Aku sering memberinya hadiah-hadiah mahal yang ia minta tanpa harus meminta ia memberikanku sesuatu juga. Aku hanya butuh kesetiaannya, dan kepercayaanku dirusaknya begitu saja. Dasar jalang.

Aku muak dengan Alisa, atau apa yang ia sebut dengan cinta mati itu. Persetan dengannya.

Kelebatan bayangan mereka melewati kepalaku. Aku semakin pusing. Berapa botol minuman yang kutenggak tadi? Seingatku aku hanya meminum dua botol setelah bertengkar dengan Papa. Atau tiga? Atau lima? Lalu, setelah itu apa?

Kepalaku benar-benar sakit sekarang. Aku tidak mau mengingat apapun lagi. Sekarang aku hanya ingin menikmati kesendirianku tanpa orang-orang yang menyakiti hatiku ada di sekitarku. Seandainya saja aku bawa gitarku tadi, aku terlalu terburu-buru keluar rumah akibat kemarahan yang amat sangat.

Aku kemudian melihat sekelilingku. Hei, aku berada di atap sebuah gedung. Bagaimana aku bisa berada di sini? Aku tidak ingat telah berlari ke atap gedung ini setelah kejadian itu. Ya sudahlah. Seharusnya aku menikmati malam ini. Namun, aneh sekali. Harusnya malam ini sangat dingin. Akan tetapi aku tidak dapat merasakan hembusan angin menyentuh kulitku yang hanya memakai kaus tipis bergambar band kesukaanku tanpa mengenakan jaket untuk melindungiku. Aku pun mulai bangkit dan berjalan ke sekelilingku dan melihat riuh rendah kota dari atas sini. Hei, ada ramai-ramai apa di bawah itu? Seperti ada sekerumunan orang mengitari sesuatu, dan ada mobil-mobil bersirine juga di sekitar situ. Apakah ada kecelakaan?

Tiba-tiba kepalaku berdenyut hebat. 

Lalu, seketika aku teringat.

Sesuatu yang tengah dikerumuni itu aku. Aku yang tubuhnya telah hancur tertabrak truk berkecepatan tinggi karena aku terlalu mabuk hingga tak sadar telah berdiri di tengah jalan dan tak sempat menghindar.

Setidaknya aku tidak perlu pulang lagi ke rumah neraka itu sekarang.

0 komentar:

Posting Komentar