Senin, 22 Desember 2014

Penampilan

Ada sebuah pepatah asing mengatakan, jangan menilai sebuah buku dari sampulnya. Sebagian orang setuju, karena belum tentu sebuah buku memiliki cerita yang tidak bagus ketika buku tersebut memiliki sampul yang tidak menarik. Bisa jadi, sebuah buku yang sampulnya menarik ternyata tidak memiliki cerita semenarik sampulnya. Namun, apakah benar kita benar-benar tidak melihat sampul terlebih dahulu ketika memilih sebuah buku?

Sampul dalam pepatah di atas menyimbolkan penampilan seseorang, dan buku di pepatah tersebut menyimbolkan orang tersebut pula. Pepatah asing tersebut mengingatkan kita bahwa janganlah hanya menilai orang dari penampilan luarnya saja. Kita juga harus melihat orang tersebut dari perilaku dan hati orang tersebut. Memang, beberapa orang memiliki penampilan yang berbanding lurus dengan perilaku dan hati. Akan tetapi, banyak juga orang yang penampilan dan perilaku yang berbanding terbalik. Satu hal yang menjadi persoalan adalah apakah benar kita benar-benar tidak melihat penampilan seseorang terlebih dahulu?

Manusia zaman sekarang ternyata belum dapat memahami pepatah asing tersebut. Kita, yang katanya disebut sebagai manusia zaman sekarang, masih saja menilai orang lain dari penampilannya saja. Pernah suatu saat aku membaca salah satu thread di Kaskus mengenai seorang lelaki paruh baya berpenampilan sederhana yang mendatangi sebuah tempat penjualan mobil. Lelaki ini memiliki fisik yang cacat. Ketika ia datang ke tempat itu, penjaga tempat penjualan mobil itu menyangka bahwa ia adalah seorang pengemis yang mau meminta-minta di tempat tersebut. Penjaga tempat tersebut pun memberikan uang ala kadarnya kepada lelaki tersebut. Serentak, lelaki itu berkata, "Saya ke sini mau membeli mobil, Pak." Ternyata, lelaki tersebut adalah seorang bos toko elektronik terbesar di kotanya. Dari kisah ini, kita dapat belajar bahwa belum tentu orang yang penampilannya menurut kita tidak meyakinkan itu benar-benar tidak meyakinkan. Bisa jadi itu hanyalah prasangka sesaat kita. Jika prasangka kita tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya, apakah kita tidak malu? Siapa tahu prasangka negatif kita terhadap penampilan seseorang tidak terbukti dengan perilaku orang tersebut.

Lagipula, banyak juga orang yang menipu dengan berpenampilan sedap dipandang. Memang penampilannya benar-benar meyakinkan, tapi ternyata kualitas orang tersebut tidak lebih baik dari penampilannya. Hal ini yang biasanya benar-benar menipu kita. Kita biasanya memuja dan menganggap baik orang-orang seperti ini, yang pada akhirnya dapat merugikan kita juga. Ambil saja contoh petinggi-petinggi negara yang berpakaian rapi dengan segala macam perhiasan yang menempel di tubuh, tidak lupa pula kendaraan mentereng yang digunakan. Mereka berkesan baik di mata masyarakat karena penampilan dan embel-embel gelar pendidikan tertinggi, dan masyarakat seakan dibutakan oleh itu. Namun, apa yang petinggi-petinggi itu hasilkan? Kerugian milyaran Rupiah. Banyak pula kasus penipuan di dunia maya oleh orang-orang yang berpenampilan menarik. Bisa dibayangkan, orang-orang yang berpenampilan baik dan meyakinkan seharusnya tidak melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Cantik di wajah, tetapi buruk di perilaku. Sehingga, perlu kita tanyakan lagi kepada diri kita: apakah kita masih mau menilai buku dari sampulnya?

Jadi, masih mau menilai seseorang dari penampilannya?

0 komentar:

Posting Komentar