Kamis, 04 Desember 2014

Menua

Abi dan Umi sudah kembali dari perjalanan selama dua bulan. Beliau berdua membelikanku banyak sekali makanan ringan dan cokelat, hal yang jarang sekali aku nikmati selama dua bulan ditinggal sendiri di rumah. Aku sangat senang ketika Abi berkata bahwa beliau hanya mengingatku saat pergi, sehingga beliau membelikanku banyak makanan ringan dan cokelat. Umi pun membelikanku sebuah tas yang menurutku sangat bagus. Tidak sia-sia aku kangen kepada beliau berdua saat sendiri. Di balik kebahagiaan dalam menyambut kembalinya Umi dan Abi, aku perlahan menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak terpikirkan olehku. Walaupun Abi masih terlihat aktif dan bersemangat, tetapi napasnya terdengar semakin berat. Umi pun semakin sering lupa dalam mengingat suatu hal yang sepele, semisal mencari kacamata yang sebenarnya telah terpasang di batang hidung beliau. Ya, beliau berdua sudah mulai menua.

Seringkali kita terlupa bahwa orangtua kita tidak selamanya akan tetap muda seperti halnya ketika kita masih kecil. Ketika kita tumbuh dan mendewasa, orangtua kita pun ikut tumbuh dan mendewasa. Kita hanya berpikir bahwa kita akan terus bertambah tua seiring berjalannya waktu, tanpa memikirkan bahwa orangtua kita juga bertambah usianya. Kita hanya berpikir bahwa kita akan mengalami kesulitan-kesulitan dalam hidup ketika kita beranjak dewasa, tanpa memikirkan bahwa orangtua kita juga mengalami hal yang sama, bahkan bisa jadi lebih rumit lagi. Kita terkadang seakan tidak mau tahu dan cenderung apatis dengan keadaan orangtua kita yang selalu kita anggap baik-baik saja, padahal mereka juga berjuang dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang mereka alami saat mereka bertambah tua. Seringkali juga kita tidak mengerti kekhawatiran-kekhawatiran yang mereka pikirkan dan resahkan. Dan dalam proses penuaan, banyak sekali hal yang membuat mereka gelisah dan kita tetap saja tidak paham. Orangtua kita menjadi mudah marah dan senewen ketika mereka kehilangan beberapa kemampuan yang dianggap sepele, seperti halnya kemampuan dalam mengingat sesuatu. Menurut kita, hal itu mungkin hal sepele yang mengganggu kita. Padahal, sebenarnya mereka lah yang merasa paling terganggu dengan hal ini. Mereka tidak ingin dianggap tidak mampu lagi karena mereka merasa bahwa mereka adalah tumpuan bagi anak-anak mereka. Akan tetapi, apa daya. Penuaan membuat segala hal yang mudah menjadi sulit bagi mereka.

Sebelum ditinggal selama dua bulan oleh Abi dan Umi, jujur saja, aku adalah anak yang sangat malas dalam membantu beliau berdua mengerjakan pekerjaan rumah. Aku sangat apatis dan menganggap bahwa aku juga memiliki hal-hal yang juga harus kukerjakan, seperti tugas-tugas kuliah. Namun, ketika mereka kembali, aku tersadar bahwa aku tidak boleh terus menerus menjadi seorang anak yang apatis terhadap orangtuaku sendiri, terutama ketika aku tahu bahwa mereka telah mengalami banyak hal sulit dengan penuaan yang mereka alami. Seringkali Umi berkata padaku, "Jika kamu malas-malasan terus, bagaimana kamu bisa bertahan ketika Umi tidak ada nantinya?" Aku tidak ingin tersadar ketika orangtuaku sudah meninggalkanku selamanya. Setidaknya, aku harus melakukan sesuatu agar mereka merasa dimudahkan ketika mereka mulai menua. Tidak muluk-muluk, menjadi anak yang penurut dan berbakti akan menyenangkan setiap hati orangtua. Orangtua juga suka diajak berbincang-bincang, jadi usahakan menemani mereka sambil mengobrol tentang banyak hal ketika ada waktu senggang. Tidak perlu berbicara banyak, kita hanya perlu menyiapkan telinga karena orangtua sangat suka berbicara banyak. Juga, jangan menyakiti hati mereka. Sudah banyak sekali kasus tentang bagaimana anak-anak yang menyakiti hati orangtuanya kemudian mengalami kesulitan di masa depan.

Jadi, sudah siap mendampingi orangtuamu saat mereka mulai menua?

2 komentar:

  1. Mendampingi? Ya insya Allah... Tapi bila ketiadaan mereka? Tak sanggup... T.T

    BalasHapus
    Balasan
    1. justru itu, harus siap dari sekarang :)

      Hapus