Minggu, 09 November 2014

Serapan

Beberapa hari yang lalu, aku membantu adik perempuan Mas mengerjakan tugas sekolah yang diberikan guru kepadanya. Kebetulan tugas tersebut adalah tugas bahasa Indonesia. Tugas yang diberikan tidak banyak, hanya beberapa soal berupa pilihan ganda dan sedikit soal esai. Karena ini adalah tugas bahasa Indonesia, kami harus mengerjakan tugas ini dengan teliti. Kami pun mulai membaca wacana pendek yang ada satu per satu karena setiap beberapa soal yang diberikan selalu berdasarkan pada satu wacana pendek. Ketika aku mulai membaca perintah soal yang diberikan, lalu berlanjut pada wacana pendek pertama, aku mulai mengernyitkan dahi. Ini adalah buku latihan soal bahasa Indonesia untuk siswa sekolah menengah atas (SMA), mengapa terlihat sangat tidak berbahasa Indonesia? Aku melihat banyak sekali kata serapan yang digunakan di buku latihan tersebut, seperti "konjugasi". Aku terheran-heran. Seingatku, dulu ketika aku masih duduk di bangku SMA, tidak ada kata serapan semacam "konjugasi" digunakan dalam buku pelajaran bahasa Indonesia saat itu. Kami masih menggunakan "kata hubung" sebagai kata bahasa Indonesia dari kata serapan "konjugasi" yang berasal dari bahasa Inggris, conjugation.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia daring (dalam jaringan), kata serapan merupakan kata yang diserap dari bahasa lain. Entah itu dari bahasa asing mau pun bahasa daerah. Menurut beberapa sumber, ada beberapa proses penyerapan bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia, yaitu proses adopsi, adaptasi, dan penerjemahan. Proses adopsi adalah penyerapan yang mengambil kata asli dari bahasa asing atau bahasa daerah secara menyeluruh tanpa adanya perubahan, semisal kata "mall". Kemudian, proses adaptasi adalah proses pengambilan makna dari bahasa lain dan ejaannya disesuaikan dengan bahasa Indonesia. Semisal, dalam bahasa Inggris ada kata verification, kemudian kata tersebut diambil ke dalam bahasa Indonesia dan diubah sedikit menyesuaikan dengan ejaan dalam bahasa Indonesia. Sehingga akhirnya kita dapati kata "verifikasi" dalam kamus bahasa Indonesia kita. Lalu, proses penerjemahan adalah proses penyerapan yang merujuk pada konsep suatu kata dalam bahasa asing ataupun bahasa daerah, kemudian dicarilah padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Sebagai contoh, kata try out dalam bahasa Inggris dipadankan dengan kata "uji coba" dalam bahasa Indonesia. Proses-proses penyerapan bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia ini membuat kosakata bahasa Indonesia semakin kaya, sehingga terkadang kita tidak terlalu bisa membedakan mana kata asli bahasa Indonesia dan mana kata serapan.

Menurutku, kata serapan tidak seharusnya digunakan, terutama dalam buku pelajaran bahasa Indonesia untuk pelajar, jika tidak dengan sangat terpaksa sekali. Terpaksa dalam artian tidak ada padanan kata yang pas dalam bahasa Indonesia sehingga kata serapan harus digunakan. Ketika seorang siswa dibiasakan menggunakan kata serapan, maka akibatnya akan menjadi tidak baik bagi siswa tersebut ke depannya. Ia tidak akan benar-benar mengenal kata asli bahasa Indonesia yang sebenarnya dan malah akan lebih mengenal kata serapan yang kemungkinan besar lebih banyak diambil dari bahasa asing. Miris sekali membayangkan jika kata asli bahasa Indonesia banyak yang terlupakan sehingga akhirnya hilang dan tergantikan dengan istilah-istilah asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia. Aku sedih mendengar adik perempuan Mas menyebut kata "regulasi" daripada kata "peraturan". Aku sedih melihat buku bahasa Indonesia untuk siswa SMA lebih memilih kata "konjugasi" daripada "tanda hubung". Aku sedih melihat petinggi-petinggi negara lebih menggunakan kata "edukasi" daripada "pendidikan". Memang mereka memiliki arti dan maksud yang sama, dan mungkin dengan menggunakan kata serapan akan membuat mereka terlihat lebih cerdas dibanding ketika mereka menggunakan kata asli bahasa Indonesia. Namun, lebih memilih kata serapan daripada kata asli bahasa Indonesia tidak akan serta merta melestarikan kata asli bahasa Indonesia itu sendiri. Bayangkan saja jika di masa depan kata "peraturan", "tanda hubung", dan "pendidikan" menghilang dari Kamus Besar Bahasa Indonesia daring dan tergantikan oleh kata "regulasi", "konjugasi", dan "edukasi", siapa yang akan bertanggung jawab atas hilangnya kata-kata tersebut? Apakah kita mau kata-kata asli bahasa Indonesia benar-benar hilang dan tidak digunakan sama sekali oleh anak cucu kita? Apakah kita mau kata-kata tersebut bernasib sama seperti kata "mangkus" dan "sangkil" yang akhirnya lebih dikenal sebagai "efektif" dan "efisien"? Tentu tidak, bukan? Dan aku bersyukur sekali ternyata masih banyak orang yang mau lebih memperhatikan hal ini, seperti beberapa orang di Kaskus yang mengajak Kaskuser lainnya untuk lebih sadar dalam penggunaan kata asli bahasa Indonesia. Semoga dengan adanya orang-orang yang peduli dengan keberadaan kata asli bahasa Indonesia, maka penggunaan kata serapan apalagi istilah asing dalam kehidupan sehari-hari akan berkurang.

Jadi, masih terbiasa menggunakan kata serapan?

0 komentar:

Posting Komentar