Selasa, 04 November 2014

Kepergian

Aku baru saja terbangun ketika mendapati pesan singkat di telepon genggamku. Ternyata itu merupakan pesan singkat dari Mas yang memberitahuku bahwa kucing kesayangan keluarga Mas telah tiada. Padahal, kucing tersebut sudah menemani keluarga Mas sembilan tahun lamanya, sehingga wajar saja jika seluruh keluarga Mas saat ini dirundung kesedihan yang mendalam. Sebagai kucing kesayangan, ia telah dianggap sebagai keluarga oleh Mas. Tak urung aku pun bersedih. Kepergiannya adalah hal yang paling tidak diinginkan oleh keluarga Mas. Adik perempuan Mas pun sampai menangis tak tertahankan. Aku sempat menemani kucing ini berobat satu minggu yang lalu karena tidak bisa buang air, dan setelah ditangani ia sudah agak sehat, itu kata dokter. Dan ia memang terlihat lebih sehat daripada sebelum dibawa ke dokter. Namun, beberapa hari kemudian ia kembali tidak bisa buang air, bahkan sudah tidak mau makan. Hal yang aku sesalkan adalah penanganannya yang terlambat. Seminggu baru dibawa kembali ke dokter. Akhirnya, sudah terlambat, air seninya sudah bercampur dengan darah, menandakan ginjalnya sudah terserang. Dan ternyata, pagi ini ia sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Kepergian seseorang atau pun seekor hewan peliharaan memang menyedihkan, terutama mereka yang pergi dan kita tahu mereka tidak akan pernah kembali. Memang tidak ada yang tahu pasti kapan seseorang akan pergi dalam waktu lama, dan apakah mereka akan kembali sesuai harapan kita. Namun, ketika kita tahu mereka tidak akan kembali selama-lamanya, sakit yang didera sangatlah perih. Seketika ingatan yang melekat dalam pikiran berhamburan keluar, membuat kita mengingat saat-saat mereka masih ada dan hadir di sisi kita. Tak ayal, kepedihan dalam hati membawa kesedihan yang akhirnya berhasil membobol bendung di mata. Mengenang mereka seperti menghujamkan belati ke dada. Seakan tak percaya, kita masih akan tetap bertanya pada diri sendiri, benarkan mereka telah pergi? Sesuatu yang akan selalu kita tolak kebenarannya. Namun, tidak bisa. Mereka tetap pergi meninggalkan kita.

Akan tetapi, apa guna menangisi mereka yang telah pergi? Memang, sedih pasti ada. Tangis pasti mengalir. Walaupun begitu, kita sudah tahu bahwa mereka tidak akan kembali. Benar-benar tidak akan dan tidak bisa kembali ke kehidupan kita yang sekarang dan masa depan. Di balik kepergian yang ditinggalkan selalu ada sedih, selalu ada lara, selalu ada air mata. Tetapi, selalu ada kekuatan dan ketegaran di balik setiap kepergian. Selalu ada keteguhan dan keyakinan dalam dada. Mereka pergi untuk hidup baru yang lebih baik bagi mereka. Memang sudah waktunya bagi mereka untuk pergi, dan kita tidak bisa menolak kepergian mereka. Hal yang bisa kita lakukan hanyalah mendoakan agar mereka tetap mendapat yang terbaik di sana, agar mereka tetap terjaga oleh-Nya, agar mereka tidak dirundung kesedihan seperti kita yang mereka tinggalkan. Dan kita yang ditinggalkan harus selalu berusaha tegar atas kepergian mereka. Kita harus yakin bahwa kepergian mereka bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk terus bersedih dan berhenti melanjutkan hidup kita sendiri. Namun, lebih dari itu, kita juga harus terus berbuat yang terbaik. Apa yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Toh, mereka sudah pergi, dan kita tidak bisa membuat mereka kembali lagi. Jadi, tetaplah menatap masa sekarang dan masa depan, terimalah kenyataan bahwa kita akan tetap menjadi orang yang sama walaupun harus mengalami kepahitan atas kepergian mereka, dan hadapilah hidup walaupun tanpa mereka di sisi kita. Dan mereka yang pergi akan tetap hidup selamanya dalam kenangan kita.

Selamat jalan, Boim. Kami akan selalu merindukanmu...

4 komentar:

  1. Hiks... jadi ikutan sedih bacanya. Semoga Boim tenang di alam sana dan segera dikasih pengganti Boim :))

    BalasHapus
  2. Good bye Boiiim, we miss youuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Let him rest in peace. He might be in a better place now :)

      Hapus