Rabu, 01 Oktober 2014

Kedewasaan

Pertama-tama, aku mengucapkan maaf kepada para pembaca blog ini, baik yang selalu mengikuti tulisanku dari awal hingga sekarang maupun yang hanya lewat. Aku meminta maaf karena pada bulan September kemarin aku tidak menuliskan apa-apa di sini. Bukan berarti aku sedang malas dan tidak memiliki ide. Aku sedang berada pada masa membiasakan diri lagi dengan urusan perkuliahanku. Di semester ini, aku sedang benar-benar disibukkan dengan tugas-tugas yang menumpuk dan meminta untuk segera dikerjakan. Setiap minggu, ada saja tugas-tugas yang diberikan oleh setiap dosen dari mata kuliah yang berbeda. Oleh sebab itu, aku sedang berusaha membagi waktuku agar bisa mengerjakan tugas-tugas tersebut supaya tidak terbengkalai seperti semester-semester sebelumnya. Konsekuensinya, aku harus fokus pada apa yang menjadi tugasku dan tidak perlu memikirkan apa yang harus aku tulis di sini. Sehingga, jadilah sebulan lalu aku tidak memposting apa-apa karena aku memang sedang tidak berusaha mencari ide untuk dibagikan. Namun, di akhir bulan, mendadak aku mendapatkan beberapa ide yang sayangnya tidak sempat aku tuliskan. Akhirnya, aku memutuskan untuk mulai menulis lagi di bulan Oktober ini karena aku merasa sudah terbiasa dengan kehebohan tugas yang menumpuk. Sekali lagi, aku minta maaf kepada para pembaca.

Malam ini, aku seketika mendapatkan sesuatu untuk dituliskan ketika seorang teman menunjukkanku suatu hal. Hal tersebut membuatku berpikir, betapa tidak dewasanya sang penulis dengan menggunakan ruang publik (dalam hal ini, media sosial) untuk menunjukkan ketidaksukaannya kepada seseorang. Padahal, sebagaimana yang kita tahu, seharusnya suatu masalah diselesaikan secara baik-baik oleh kedua belah pihak yang bersangkutan. Bukannya malah mengumbar ketidaksenangannya terhadap seseorang kepada khalayak ramai. Orang yang melihat mungkin malah akan berpandangan aneh dan sinis kepada orang tersebut. Aku hanya berpikir, memang benar ungkapan bahwa dewasa itu bukan tentang usia, melainkan tentang cara seseorang bersikap.

Kita semua mungkin pernah menemui hal seperti di atas, mengenai bagaimana orang-orang yang kita anggap dewasa karena usianya yang sudah dianggap seperti itu, ternyata tidak bersikap selayaknya orang dewasa. Memang tidak salah ketika kita mengatakan manusia di usia 20 tahun ke atas adalah manusia dewasa. Namun, ketika orang tersebut tidak berperilaku selayaknya orang dewasa, apakah masih pantas jika kita menyebutnya sebagai orang dewasa? Sebenarnya, bagaimana seseorang bisa disebut sebagai dewasa?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dewasa berarti seseorang yang sudah bukan anak-anak atau remaja lagi. Di Indonesia, seseorang dikatakan sudah dewasa ketika usianya sudah tidak belasan lagi, semisal 20 tahun ke atas. Selain itu, masih menurut KBBI, dewasa adalah seseorang yang sudah matang pikiran atau pandangannya. Ketika merujuk pada pengertian ini, maka usia sudah tidak bisa menjadi patokan seseorang dikatakan dewasa. Pada pengertian ini, akal pemikiran seseoranglah yang dijadikan patokan apakah seseorang bisa dikatakan dewasa atau tidak. Bisa jadi anak usia belasan tahun pemikirannya lebih matang daripada seorang bapak usia paruh baya. Jadi, usia tidak bisa menentukan kedewasaan seseorang dalam hal ini.

Menurutku, orang yang sudah dewasa adalah ia yang tahu bagaimana harus bersikap dengan tepat dalam tiap situasi dan kondisi. Sikap yang tepat merupakan hasil dari pemikiran yang telah matang. Semisal, ia tahu bagaimana harus berbicara dengan kelompok masyarakat yang berbeda, atau bagaimana ia harus berbicara pada khalayak ramai di media sosial. Keberadaan media sosial, menurutku, membuat banyak orang menjadi berkurang kedewasaannya. Dengan dalih kebebasan berpikir dan berpendapat, setiap orang tentu saja dapat menuliskan apa pun yang mereka mau sajikan kepada ruang publik. Ini membuat banyak orang terkesan menjadi labil. Dalam banyak situasi, banyak tulisan-tulisan yang tidak tepat penggunaannya di media sosial. Apa yang tidak semua orang harus tahu malah menjadi rahasia umum. Dari masalah ini, kita bisa menilai apakah orang-orang seperti ini sudah berpikiran matang atau belum, sudah melalui proses pendewasaan atau belum. Contoh-contoh seperti itu banyak kita temui di mana saja di dunia maya, bahkan pula di dunia nyata. Sehingga, dengan melihat pada contoh nyata di sekitar di sekitar kita, kita bahkan seharusnya bisa menilai diri kita sendiri apakah kadar kedewasaan kita sudah cukup atau kurang, sudah stabil atau belum, bisa dipertanggungjawabkan atau tidak. Dari itu, ketika kita sudah bisa menilai, maka kita bisa menilai pantaskan diri kita disebut sebagai orang dewasa yang kedewasaan atau orang dewasa yang kekanak-kanakan, dan itu merupakan pilihan dari masing-masing individu.

Jadi, sudah merasa dewasa?

2 komentar: