Rabu, 23 Juli 2014

Mendua

"Kamu pernah, nggak, suka sama dua cowok dalam satu waktu?" begitu tanya temanku saat ia berkunjung ke rumahku kemarin. Aku sedikit terhenyak. Menyukai dua orang lelaki dalam satu waktu? Itu bukanlah hal yang bisa begitu saja terlintas di pikiranku. Bahkan menyukai satu orang lelaki saja terkadang susah setengah mati. Mengapa bisa begitu? Karena menyukai, lebih-lebih mencintai, pastinya harus dengan hati yang utuh. Dan melakukannya pun, walaupun seolah-olah mudah, tapi prosesnya ternyata lebih sulit dari sekedar mengucapkan. Apalagi untuk mencintai dua orang yang berbeda dalam satu waktu, pasti akan sangat merepotkan.

Memiliki hati untuk mencintai merupakan anugrah yang indah bagi siapa saja yang merasakannya. Mencintai pun tidak harus kepada pasangan, bisa jadi mencintai suatu kegiatan, mencintai keluarga, mencintai saudara, mencintai hewan peliharaan, dan lain sebagainya. Rasa cinta terhadap seseorang atau sesuatu ini membuat kita merasa damai dan nyaman, sehingga kita bersedia untuk melakukan apa saja demi seseorang atau sesuatu itu. Sebagai contoh, jika seseorang mencintai kegiatan membaca, ia pasti rela melakukan apa saja untuk menambah bahan bacaannya setiap hari. Walaupun harus susah payah mengumpulkan uang untuk membeli novel yang ia ingin baca, misalnya, ia tetap memperjuangkan itu untuk membelinya.

Khusus untuk pasangan, mencintai ia berarti mencintai keseluruhan darinya. Itu berarti, kita harus mencintai kekurangan dan kelemahannya di samping mengagung-agungkan kehebatannya. Terkadang, karena adanya kelemahan dan kekurangan dari pasangan, kita tidak bisa menerima pasangan secara keseluruhan. Akibatnya, bisa saja timbul permasalahan yang berujung pada pencarian sosok yang lebih sempurna lagi. Mengapa bisa begitu? Pada dasarnya manusia adalah sosok yang tidak pernah puas akan kekurangan atau kelemahan. Karena ketidakpuasan ini, manusia cenderung akan lebih memilih sesuatu yang menurutnya tidak terlalu banyak kekurangan. Bahkan jika bisa, manusia akan cenderung memilih sesuatu yang tidak ada kekurangan dan cacat sedikit pun alias sempurna. Namun, karena tidak ada manusia yang tidak memiliki cacat dan cela, maka penyakit tidak pernah puas ini tidak akan pernah bisa terpenuhi, sehingga terbentuklah keinginan untuk terus mencari.

Sudah banyak terjadi perpisahan yang tidak semestinya pada setiap orang yang tidak puas dengan pasangannya. Perpisahan ini awalnya disebabkan oleh ketidakpuasan, lalu berujung pada pencarian sosok sempurna yang lain, kemudian berujung pada mendua. Akibatnya, perpisahan pun tak terelakkan. Hal ini seharusnya tidak terjadi dan bisa dicegah jika masing-masing orang bersyukur dan menerima kekurangan pasangannya. Jika tidak bisa menerima kekurangan pasangan, maka mendua pun akan menjadi alternatif terdekat untuk dipilih jika tidak ingin berpisah dengan pasangannya. Padahal, mendua adalah pilihan yang menyakitkan perasaan, dan perasaan tidak hadir semata-mata untuk dimainkan, namun untuk dijaga. Ketika mendua, kepercayaan sudah secara otomatis hilang dari kedua pasangan, dan pastinya berujung pada perpisahan. Semestinya, jangan mendua jika merasa tak cocok. Sebaliknya, bicarakan baik-baik apa permasalahan yang ada, apa kekurangan yang perlu diperbaiki, apa kesalahan yang harus dimaafkan, dan lain sebagainya. Dengan komunikasi yang baik, kejadian mendua atau bahkan perpisahan akan bisa dihindari.

Jadi, sudah memilih untuk tidak mendua?

0 komentar:

Posting Komentar