Selasa, 08 Juli 2014

Memilih

Besok akan menjadi hari yang sangat menegangkan bagi seluruh rakyat Indonesia. Bagaimana tidak, nasib mereka empat tahun mendatang akan mereka tentukan besok. Ya, hari Rabu, 9 Juli 2014 mendatang akan menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia untuk memilih siapa yang akan memegang tampuk kepemimpinan Indonesia ke depan. Sudah dari jauh hari masyarakat Indonesia telah membicarakan hal ini dengan orang-orang terdekat mereka ataupun orang yang mereka anggap ahli mengenai masalah ini. Dari yang belum mempunyai hak pilih sampai yang sudah memiliki hak pilih, semuanya memperhatikan para kandidat presiden dan wakil presiden yang akan dimunculkan gambarnya pada kertas suara yang akan dicoblos Rabu esok.
 
Euforia pemilihan presiden dan wakil presiden tahun ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada beberapa tahun yang lalu, banyak sekali kandidat yang dicalonkan pada pemilihan-pemilihan sebelumnya. Dan juga, saat itu masyarakat Indonesia tidak terlalu menggebu-gebu dalam menunjukkan semangat memilih presiden dan wakil presiden. Namun, saat ini terlihat sekali semangat masyarakat Indonesia dalam memilih pemimpin yang akan memimpin mereka ke depannya. Masyarakat Indonesia membicarakan kehebatan dan kekurangan masing-masing kandidat, latar belakang mereka, dan meyakini masing-masing kandidat dapat memperbaiki Indonesia ke depannya. Ada yang sejak awal yakin dengan satu kandidat, ada pula yang sampai hari ini masih belum tahu akan memilih siapa. Dan hebohnya lagi, kandidat yang bisa dipilih hanya ada dua pasangan. Ya, hanya dua. Terlihat sekali, kan, bagaimana euforia ini terlihat begitu panas, terutama saat kampanye berlangsung? Hanya ada dua kubu sehingga terlihat sekali seperti peperangan. Pendukung salah satu kandidat mendukung kandidatnya, tak lupa menjelek-jelekkan kandidat yang lain. Begitu pula sebaliknya. Ada pula sebagian pendukung yang tidak terlalu tersulut akan hal tersebut dan santai-santai saja menanggapi berbagai celaan yang dilontarkan kubu sebelah. Kampanye merupakan peperangan, dan medan perangnya ada di banyak tempat. Bisa di dunia nyata, bahkan terus berlangsung di dunia maya. Seheboh itu kah pemilihan umum tahun ini? Coba saja lihat lini masa media-media sosial yang kita punya. Bisa dilihat, kan, bagaimana panasnya suasana? Para pendukung menjelek-jelekkan satu sama lain, sedangkan orang-orang yang berada di posisi netral malah semakin capek dan muak melihat mereka. Dipikir-pikir, tidak dibayar kok mau-mau saja membela kandidat-kandidat terpilih?
 
Yah, itulah yang disebut pilihan. Setiap orang memiliki hak untuk memilih, entah memilih salah satu kandidat, ataupun memilih untuk tidak memilih. Semua itu adalah pilihan. Memilih adalah naluri kita. Naluri untuk bertahan hidup, naluri untuk berkeluarga, naluri untuk menetap di suatu tempat, itu yang diajarkan nenek moyang kita yang lebih dulu lahir ke dunia ini. Dan semua itu adalah pilihan. Hidup ini penuh pilihan. Bahkan, memilih untuk makan di saat lapar pun merupakan suatu pilihan. Karena setiap orang punya hak untuk memilih, kita tidak bisa semata-mata menetapkan setiap orang harus memiliki pilihan yang sama dengan kita. Semisal, seseorang ingin pindah ke luar negeri karena ingin dihargai kecerdasannya. Itu pilihan dia, dan kita tidak bisa menahan dia untuk tetap tinggal demi keegoisan kita sendiri. Ada pula yang aneh. Ada orang yang menyatakan ingin memilih salah satu dari kedua kandidat, dan ia menyatakannya di akun media sosialnya. Tak lama setelah itu, banyak sekali tanggapan dari orang-orang yang membacanya. Ada yang mendukung, banyak pula yang mencerca. Menurutku, ya terserah orang itu mau memilih siapa. Itu hak dia untuk memilih, bukan? Katanya, kita menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia, mengapa untuk memilih saja masih dibatasi? Mengapa untuk memilih saja harus dilarang dan diatur? Mengapa? Ke manakah Hak Asasi Manusia yang kita junjung tinggi? Jika masih harus diatur masalah pilih-memilih itu, berarti Hak Asasi Manusia masih menjadi wacana tanpa praktek saja. Atau bisa disebut hanya mitos. Lalu, untuk apa masih menyebut-nyebut Hak Asasi Manusia jika itu hanya omong kosong belaka?
 
Maka, sebagai sesama rakyat Indonesia yang mengakui keberadaan Hak Asasi Manusia, semestinya kita menghormati pilihan orang lain. Kita tidak bisa memaksakan orang lain mengikuti pilihan kita. Sekarang, bagaimana jika pilihan kita ditentukan atau bahkan dipaksakan oleh orang lain? Tentu kita tidak mau, bukan? Jika memang kita ini adalah satu kesatuan, tolonglah hormati dan hargai pilihan orang lain. Jangan malah mencibir. Kita toh juga tidak ingin pilihan kita dicibir oleh orang lain. Setiap orang toh sudah bersedia untuk memilih demi kelangsungan hidupnya, dan memilihnya pun tidak asal-asalan. Memilih pun menggunakan akal dan logika, tidak hanya dengan nafsu. Jikalau pun menggunakan nafsu, ya itu pilihan dia. Kita harus tetap menghormati pilihan dia tersebut.
 
Jadi, sudah siap memilih besok?

0 komentar:

Posting Komentar