Minggu, 22 Juni 2014

Sunatan

Pagi ini, Adik Kecil akhirnya disunat. Adik Kecil sekarang kelas 3 SD, dan akan naik kelas 4 SD di pergantian semester nanti. Sebenarnya, rencana sunatan ini sudah ada sejak Adik Kecil sekitar kelas 2 SD. Saat itu, dia sudah dirayu oleh Abi. Bahkan dia sudah sampai ke tempat dokter sunat. Namun, sesampainya di tempat sunat, dia menangis keras. Pada akhirnya Umi dan Abi menyerah dan membawa Adik Kecil pulang. Umi dan Abi menganggap Adik Kecil belum siap untuk disunat.

Tadi pagi, aku terbangun karena teriakan Adik Kecil saat disunat. Suara tangisnya keras sekali. Jika suara tangis dan teriakannya diketikkan pada Microsoft Word, ukuran font nya sudah pasti 72 dan semua menggunakan huruf besar. Awalnya aku jengkel, tapi lama kelamaan aku tertawa kecil karena di sela tangisnya yang seru itu dia masih bisa berkomunikasi dengan dokter, Umi, dan Abi. Kata-kata seperti, "Aduh, sakiiit!", "Sudah dong, sudaaah!", dan lain sebagainya meluncur dari bibirnya. Aku yang masih mengantuk malah tidak jadi mengantuk. Aku malah tertawa sendiri mendengarkan teriakannya.

Dulu saat Adik yang lebih besar disunat, dia tidak teriak sekencang Adik Kecil. Usia Adik Besar saat disunat pun sama, kelas 3 SD beranjak ke kelas 4 SD. Saat itu, dia hanya mengaduh-aduh, tidak sampai teriak kencang dan menangis seperti Adik Kecil tadi pagi. Saat itu, sepupuku juga ikut disunat, dan sepupuku terlihat lebih tenang dibanding Adik Besar.

Di keluargaku tidak ada yang namanya perayaan sunatan untuk anak-anak lelaki. Abi tidak pernah membiasakan itu. Jadi, sunatannya dilakukan secara diam-diam, tidak sampai memberi tahu tetangga atau saudara jauh tentang sunatan anak-anak lelakinya. Sehingga, rumor yang beredar bahwa anak yang disunat akan mendapatkan uang banyak setelah sunatan tidak akan terjadi di keluargaku. Kasihan adik-adikku, memang. Namun, itu bukan budaya keluarga Abi. Dan adik-adikku tidak mempermasalahkan hal itu. Satu yang penting bagi mereka, mereka sudah selesai melewati "siksaan" sunat.

Menurutku, anak lelaki yang mau disunat adalah anak lelaki pemberani. Dia berani dirinya dilukai sementara agar ke depannya dia tidak mengalami kesulitan hanya gara-gara takut untuk disunat. Daripada di masa depan dia kesusahan atau malah menghadapi bahaya yang lebih besar akibat tidak sunat di masa kecilnya, lebih baik dia ambil resiko untuk disunat. Dari sini, kita sebenarnya bisa belajar bahwa peribahasa berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian itu benar adanya. Kita harus bersusah payah dulu sekarang atau bahkan di masa lalu agar di masa depan kita dapat bersenang-senang dari hasil jerih payah kita dulu. Umi juga pernah menasihatiku seperti itu saat aku masih belajar di pesantren. Beliau berucap saat itu, "Lebih baik kamu susah sekarang dan enak nanti, daripada kamu enak sekarang tapi nanti-nanti susah." Berkat menuruti nasihat Umi tersebut, aku akhirnya mendapatkan apa yang aku mau: masuk ke jurusan yang aku idam-idamkan di perguruan tinggi negeri melalui jalur tulis. Aku memang harus meninggalkan segala kenikmatan rumah saat itu, dan menuntut ilmu dengan segala keterbatasan di pesantren. Memang awalnya susah untuk menghadapinya dan pasti akan ada keluh kesah saat merintanginya. Namun, setelah selesai menghadapi itu semua, ada kebanggaan tersendiri saat berhasil melewatinya. Dan aku pun merasakan kebanggaan itu.

Jadi, tak apalah sekarang susah, sakit, bahkan sampai berdarah-darah terlebih dahulu. Siapa tahu, pada akhirnya kita akan mendapatkan sesuatu yang baik, mudah, dan manis di balik setiap kesulitan itu. Seperti janji Allah di Al Quran, "Di balik setiap kesulitan, pasti ada kemudahan."

2 komentar:

  1. Selamat, mbak Opi! *eh* :D :D maksudku, adiknya mbak opi.. :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. jazaakallah khairan, ya Syaikh :D duh dikomen syekh rek, malu aku :v

      Hapus