Sabtu, 28 Juni 2014

Puasa

Menurut sidang isbat yang diadakan kemarin, awal Ramadhan tahun ini jatuh pada hari Ahad, 30 Juni 2014. Namun, beberapa orang memutuskan untuk berpuasa pada hari ini. Ada penjelasan panjang mengapa jatuhnya awal Ramadhan bisa berbeda bagi setiap orang. Namun, semua itu tidak menghalangi kita untuk tetap bersaudara sesama Muslim, bukan? Itulah yang disebut sebagai toleransi.

Aku sendiri lebih memilih mengikuti pemerintah dalam menetapkan jatuhnya awal Ramadhan. Pastilah orang-orang yang menentukan awal Ramadhan itu sangat berkompeten di bidangnya. Untuk melihat hilal (awal bulan) pastinya dibutuhkan kemampuan dalam ilmu falaq atau ilmu perbintangan, dan tidak sembarang orang bisa melakukannya. Sehingga, aku yakin saja mengikuti kata pemerintah tentang tanggal pelaksanaan awal puasa.

Bulan Ramadhan biasa disebut oleh masyarakat Indonesia sebagai bulan puasa. Disebut sebagai bulan puasa karena pada bulan Ramadhan, mayoritas umat Muslim di seluruh dunia pasti melaksanakan puasa selama satu bulan penuh. Hal ini tidak semata-mata dilakukan begitu saja. Sudah pasti ini merupakan perintah Allah SWT. agar umat Muslim seluruh dunia menjadi manusia yang bertaqwa (Q.S. Al Baqarah: 183). Berarti, bisa disimpulkan bahwa sebenarnya kita tidak hanya akan berpuasa saja pada bulan Ramadhan. Namun, lebih dari sekadar berpuasa, ada pelajaran yang bisa diambil ketika kita sedang berpuasa. Kita sedang ditempa untuk menjadi manusia yang bertaqwa dan patuh pada perintah Allah SWT.

Menurut sebagian orang, berpuasa adalah menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu dari fajar (subuh) hingga terbenamnya matahari (maghrib). Definisi tersebut tidak sepenuhnya salah, karena memang itulah apa yang biasanya kita lakukan saat sedang berpuasa. Lagipula, definisi tersebut sudah sering diajarkan sedari kita mulai berpuasa saat kecil. Namun, sebenarnya puasa itu lebih dari sekadar menahan lapar, haus, dan hawa nafsu saja. Dalam berpuasa, sebenarnya kita diajarkan untuk merasakan apa yang orang-orang tidak mampu rasakan selama hidupnya. Kita menahan lapar dari subuh sampai maghrib, mereka menahan lapar ketika tidak mempunyai apa-apa untuk dimasak. Kita menahan haus bahkan tidak sampai isya', mereka menahan haus bahkan bisa jadi sampai mereka tidur dan bangun lagi karena tidak ada yang bisa diminum. Kita menahan hawa nafsu sampai terdengar adzan maghrib, mereka menahan perasaan agar tetap sabar dan jangan sampai mereka melakukan hal-hal yang dilarang agama selama mereka tidak mampu menemukan apapun untuk keluarga mereka. Hampir sama, tapi kita selalu lupa akan hal ini. Kita hanya ingat bahwa setelah berlapar-lapar seharian, kita bisa mengonsumsi apapun yang ada di meja makan selagi perut kita bisa menampung. Kita hanya berpikir bahwa kita bisa memuaskan nafsu kita sepuas-puasnya setelah matahari terbenam. Namun, esensi puasa lebih dari sekadar menahan nafsu dan melepaskannya setelah beberapa saat. Itu yang sering kita lupa.

Selain itu, ketika kita menganggap bahwa nafsu yang harus ditahan hanya nafsu makan, minum, dan berhubungan suami istri saja, itu juga sebenarnya adalah suatu pemikiran yang keliru. Mengapa kita melupakan nafsu amarah? Mengapa kita melupakan nafsu ingin pamer? Mengapa kita melupakan kesombongan yang selalu ada? Mengapa kita melupakan penyakit hati yang lain? Mengapa yang kita ingat hanya lapar dan haus saja? Padahal, puasa itu dilakukan untuk melatih hati kita supaya di bulan yang lain kita bisa tetap mengontrol hati kita. Bulan puasa adalah bulan latihan, kata Abi. Latihan apa? Latihan untuk membersihkan hati dari penyakit-penyakit yang biasa muncul dalam diri kita. Percuma puasa jika masih marah-marah dan membentak orang lain yang melakukan salah. Percuma puasa jika masih pamer mau pakai baju apa saat lebaran nanti. Percuma puasa jika masih menyombongkan berapa puluh ayat yang dibaca saat seharian berpuasa. Untuk apa berpuasa jika masih melakukan hal-hal tersebut? Kita hanya akan dapat lapar dan hausnya saja. Esensi untuk menahan hawa nafsunya tidak bisa kita ambil. Jika ada yang bilang puasanya tidak berpahala, urusan pahala itu urusan Allah. Kita sebagai manusia tidak berhak untuk menyatakan puasa seseorang berpahala atau tidak. Jadi, kita sebenarnya masih sering melupakan untuk apa kita sebetulnya berpuasa. Maka dari itu, banyak dari kita yang setelah berpuasa masih saja kembali menjadi diri kita sebelum puasa, tidak terjadi perubahan apa-apa. Hal ini terjadi karena kita lupa melatih hati kita. Kita hanya melatih tubuh kita agar kuat puasa saja tanpa melatih hati kita untuk kebal dari penyakit-penyakit hati.

Bulan puasa tahun ini menjadi bulan puasa pertamaku di awal usiaku yang sudah menginjak kepala dua. Karena sudah dianggap dewasa, aku juga seharusnya memahami apa esensi dari berpuasa. Aku tidak mau lagi berpuasa untuk menahan haus dan lapar saja. Itu puasanya anak SD, puasanya Adik Kecil. Aku mau berpuasa selayaknya orang yang sudah dewasa, berpuasa dengan penuh makna.

Jadi, sudah siap berpuasa besok?

0 komentar:

Posting Komentar