Kamis, 26 Juni 2014

Menunda

Menunda sesuatu untuk dikerjakan sangatlah mudah. Kita hanya perlu berpikir bahwa masih ada hari esok untuk mengerjakan sesuatu itu. Ketika kita berpikir demikian, seketika itu juga keinginan untuk mengerjakan sesuatu itu sudah menghilang begitu saja. Keinginan untuk menunda pekerjaan akan selalu ada ketika kita berpikir selalu ada hari esok dan seterusnya untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Aku adalah seorang mahasiswi yang sangat mudah menunda pekerjaan. Setiap ada pikiran untuk menunda pekerjaan yang bahkan sudah menumpuk, aku akan terdiam lama di dalam kamar sembari mengutak-atik telepon genggamku daripada berusaha mengerjakan pekerjaan tersebut. Entah apa yang kulakukan, berselancar di dunia maya, mengecek jejaring sosial, berkirim pesan dengan orang lain, pokoknya apapun akan kulakukan asal bukan menyentuh pekerjaan yang menumpuk itu. Aku akan berpikir bahwa tidak perlu dikerjakan sekarang karena aku masih punya banyak waktu untuk menyelesaikannya. Tenggat waktu pun masih sangat lama, sehingga aku menunda lagi dan lagi. Walaupun waktuku sangat senggang dan aku pasti sempat menyelesaikannya, aku akan tetap bersikukuh menunda pekerjaan itu sampai akhirnya mood untuk mengerjakan pekerjaan itu datang.

Sebenarnya, menunda adalah sebuah penyakit yang harus dihilangkan. Menunda dapat menyebabkan hasil pekerjaan tidak maksimal karena dikerjakan dengan terburu-buru. Mengapa bisa terjadi demikian? Penyakit menunda ini cenderung membuat orang-orang akan menyelesaikan pekerjaannya mendekati tenggat waktu yang telah ditentukan. Karena dekat dengan tenggat waktu yang telah ditentukan, orang-orang cenderung terburu-buru mengerjakan pekerjaan mereka, sehingga hasil yang didapat pun cenderung tidak memuaskan. Lain lagi jika dikerjakan jauh hari sebelum tenggat waktu yang sudah ditentukan, maka hasil yang didapat pasti jauh lebih memuaskan.

Aku sudah mengalami akibat dari menunda. Malah bisa dibilang sudah berkali-kali. Namun, aku malah tidak belajar dari kejadian tersebut dan terus menunda selagi aku bisa. Padahal, hal tersebut sangat tidak baik untuk dilakukan. Namun, tetap saja aku terjatuh pada lubang yang sama. Seharusnya, aku belajar untuk tidak menunda-nunda pekerjaan dan berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan itu jauh-jauh hari. Aku pernah mendapatkan nilai yang tidak memuaskan untuk tugas yang aku kerjakan hanya dalam satu malam. Ironis sekali. Padahal, tenggat waktu yang diberikan lumayan lama, separuh semester. Namun, aku terus menunda sampai akhirnya batas waktu yang telah ditentukan itu datang. Aku panik dan mengerjakan tugas tersebut dengan hati kalut. Otomatis, hasil yang kudapatkan sepadan dengan apa yang aku kerjakan itu. Walaupun kecewa, aku harus menerima kenyataan bahwa itulah akibat jika aku terus menunda.

Jadi, siapa yang masih mau menunda pekerjaannya?

0 komentar:

Posting Komentar