Jumat, 27 Juni 2014

Kompetisi

Kemarin malam merupakan malam puncak bagi Abdur Rosyid dan David Nurbianto dalam memperebutkan gelar juara StandUp Comedy Indonesia season 4. Dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada bila kembali dari langit untuk membuat materi dan lelucon agar penonton tertawa, mereka harus menunjukkan kemampuan terbaik mereka kemarin malam. Materi demi materi mereka sampaikan, punchline demi punchline mereka lontarkan, tawa demi tawa dilepaskan oleh para penonton, kekaguman demi kekaguman terus dipancarkan oleh setiap pasang mata yang menonton persaingan antara dua anak manusia dari daerah yang berbeda ini. Abdur Rosyid, seorang mahasiswa S2 di sebuah perguruan tinggi di Malang, berasal dari sebuah desa terpencil di timur Nusa Tenggara. Sedangkan David Nurbianto, seorang tukang ojek, berasal dari Jakarta. Sungguh, tidak ada yang bisa menebak siapa pemenang dari kompetisi StandUp Comedy Indonesia edisi keempat ini. Mereka benar-benar cerdas dan kompeten dalam menyampaikan cerita demi cerita, dan tentu saja harus lucu. Persaingan antar keduanya sangat alot, sampai juri pun bingung untuk menentukan siapa pemenang dari kompetisi ini. Namun pada akhirnya, David lah yang berhasil menyabet gelar juara StandUp Comedy Indonesia season 4 ini.
 
Menurutku memang pantas jika David memenangkan kompetisi ini. Sebab, ia tampil sangat prima dan polos kemarin malam. Dengan gaya bicara yang nyablak alias ceplas-ceplos khas Betawinya, ia berhasil membuat penonton banyak tertawa. Berbeda dengan Abdur yang lebih banyak membuat penonton kagum. Padahal esensi dari perlombaan ini adalah membuat penonton tertawa. Kagum menjadi urusan kesekian. Konsep yang dibawakan David juga jelas dan tampak utuh, walaupun awalnya terlihat seperti sebuah ketidaksengajaan. Berbeda dengan Abdur yang konsepnya agak tidak menyatu, seperti kata Raditya Dika selaku salah satu juri yang mengomentari penampilan mereka berdua kemarin. Tidak salah lah jika para juri akhirnya memutuskan untuk memberikan gelar juara kepada David, karena David memang tampil sangat bagus kemarin malam.
 
Kata 'kompetisi' merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, competition. Arti dari competition adalah 'persaingan' atau 'pertandingan'. Biasanya kita lebih banyak menggunakan kata serapan ini daripada kata aslinya. Padahal, jika kita sering menggunakan kata asli bahasa Indonesia daripada bahasa Inggris, maka kata-kata asli bahasa Indonesia tidak akan hilang dan akan terus-menerus digunakan oleh generasi Indonesia selanjutnya. Seperti contoh kata 'efektif' dan 'efisien'. Kedua kata tersebut juga merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, effective dan efficient. Kata guru bahasa Indonesia ku dulu, arti sebenarnya dari kedua kata tersebut adalah 'mangkus' dan 'sangkil'. Dan saking jarangnya digunakan, kata aslinya hilang dan digantikan dengan kata serapan ini. Miris, bukan?
 
Baiklah, kembali ke topik utama. Kompetisi. Kompetisi atau persaingan merupakan suatu kegiatan untuk mengalahkan orang lain, entah itu individu atau berkelompok, yang dilakukan untuk mencapai sesuatu. Biasanya, kompetisi diidentikkan dengan kegiatan olahraga atau perlombaan. Namun, bisa juga kompetisi dikaitkan dengan perebutan ranking kelas atau peraihan nilai tertinggi dalam suatu ujian. Dalam kasus Abdur dan David di atas, kita bisa menyaksikan bahwa mereka berdua memperebutkan juara pertama dalam kompetisi StandUp Comedy Indonesia season 4. Kompetisi juga bisa dilihat dalam keseharian, semisal kompetisi antara adik dan kakak yang saling berebut acara televisi atau berebut perhatian orang tuanya. Jadi, kompetisi tidak melulu tentang lomba, kompetisi juga bisa terjadi di kegiatan sehari-hari.

Di era modern ini, banyak sekali terjadi kompetisi antar para pengguna internet. Biasanya terjadi di jejaring sosial seperti Facebook atau Twitter. Jejaring sosial yang seharusnya digunakan untuk mencari teman dan sebagainya, malah digunakan untuk ajang berkompetisi. Hal yang dijadikan kompetisi pun juga tidak masuk akal, semisal bersaing mendapatkan follower lebih banyak, like terbanyak, dan sebagainya. Dan untuk mendapatkannya, terkadang orang-orang yang melakukan hal tersebut harus melakukan hal yang menurut mereka wajar, tapi bagi kita aneh. Semisal menghubungi teman-teman jejaring sosialnya melalui pesan pribadi lalu meminta like, hingga memamerkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu dipamerkan. Ketika mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka merasa puas. Namun, rasa puas itu datang hanya sementara, sehingga selanjutnya mereka akan melakukan hal yang sama berulang-ulang.

Kompetisi dalam keseharian itu sebenarnya baik. Kompetisi dapat memotivasi kita untuk menjadi lebih baik dan selalu belajar agar tidak tertinggal. Namun, terkadang kompetisi juga menjadi tidak baik jika dilakukan dengan cara-cara yang tidak dibenarkan. Kompetisi juga bisa menjadi bibit dari iri dengki terhadap keberhasilan orang lain, sehingga dengan itu kita akan dengan mudah benci dengan kesuksesan orang lain yang kita tidak tahu bagaimana orang tersebut sukses dengan susah payah. Padahal, hal itu tidak perlu terjadi jika seandainya kita tahu apa inti dari sebuah kompetisi: menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Jadi, jika kita tahu apa esensi sebenarnya dari kompetisi, kita tidak akan mudah iri terhadap keberhasilan orang lain. Malah, kita akan terus terpacu untuk berusaha menjadi lebih baik dan bukan malah mengasihani diri sendiri yang belum bisa berhasil seperti orang lain. Dengan itu, kita sebenarnya sedang memperbaiki diri kita sendiri. Dengan demikian, tidak akan ada lagi istilah menang dan kalah. Semua menjadi pemenang. Orang yang dianggap menang memang telah berhasil mendapatkan apa yang ia impikan, tapi orang yang dianggap kalah sebenarnya tidak kalah. Setidaknya ia telah mendapatkan pengalaman untuk dipelajari lagi agar ke depannya ia bisa berhasil seperti orang yang dianggap menang tadi.

Jadi, sudah siap berkompetisi?

0 komentar:

Posting Komentar