Senin, 30 Juni 2014

Kebuntuan

Kita semua sudah pasti pernah mengalami kebuntuan saat berpikir. Entah terganggu dengan suatu hal yang lain, atau memang kita tidak bisa melanjutkan pikiran kita tersebut. Aku seringkali mengalami kebuntuan, terutama saat mengerjakan tugas dan menulis posting blog. Dalam menulis posting kali ini pun aku sempat mengalami kebuntuan harus menuliskan apa. Namun, karena teringat perkataan seorang teman dahulu kala saat aku masih aktif di blog lamaku, akhirnya aku membuat posting dengan tema ini.

Dulu, saat aku sedang malas mengisi blog, temanku ini mengingatkanku. "Mbak, kok tidak mengisi blog lagi?" Aku menjawab sekenanya, "Sedang tidak ada topik untuk diangkat, Syekh." Spontan dia menjawab, "Lho, Mbak kan biasanya bisa cari tema. Habis tabrakan saja bisa jadi tema." Dan saat itu aku hanya menganggap omongan temanku ini sebagai angin lalu. Namun, sekarang hal itu terpikirkan lagi ketika aku tidak memiliki tema untuk dibahas. Mengapa tidak membahas kebuntuanku saat mencari tema saja? Aku merasa menjadi seorang David Nurbianto, pemenang StandUp Comedy Indonesia season 4, yang bisa menciptakan materi lawakan mengenai kebuntuannya akan mencari materi. Unik sekali.

Buntu itu bisa berarti berhenti (bisa sementara atau permanen) karena terhambat oleh sesuatu. Kebuntuan bisa terjadi di mana saja, di got, di sungai, bahkan dalam isi kepala kita. Kebuntuan biasa dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu. Sejujurnya, ya. Karena kebuntuan, biasanya kreatifitas seseorang menjadi terhambat. Semisal seseorang sedang menulis sebuah puisi, bisa jadi ia terhenti sebentar karena mengalami kebuntuan. Jika mengalami kebuntuan, biasanya orang tersebut akan berusaha mengingat-ingat apa yang akan dan harus ia tulis selanjutnya. Namun, jika kebuntuan terus ada, lama kelamaan ia akan menjadi malas untuk melanjutkan pekerjaannya dan memilih melakukan pekerjaan lain terlebih dahulu.

Biasanya ketika aku mengalami kebuntuan, hal pertama yang aku lakukan adalah menghentikan kegiatan yang sedang kulakukan tersebut. Semisal aku sedang mengerjakan tugas lalu aku tidak bisa berpikir lebih lanjut mengenai hal itu, aku akan berhenti mengerjakan tugas. Lalu, aku akan melakukan hal lain untuk mencari inspirasi, semisal membaca beberapa thread di Kaskus atau berinteraksi dengan Mas melalui chat. Atau bisa juga aku membaca beberapa blog bagus yang sudah aku tandai sebelumnya. Setelah itu, sudah pasti akan ada inspirasi yang datang setelah membaca deretan kalimat yang menyenangkan hati banyak sekali bahkan kalau kita bermimpi. Selanjutnya, aku akan segera mencoba melihat hasil pekerjaanku yang belum selesai tadi dan melanjutkannya sesegera mungkin. Namun, jika berkelana di internet pun tidak berhasil mendatangkan inspirasi, aku akan menutup tugasku dan melanjutkan penjelajahanku di dunia maya. Mungkin setelah menutup tugas, berinternet-ria, lalu tidur nyenyak, esoknya inspirasi akan datang dan kebuntuan akan hilang.

Jadi, sudah siap melawan kebuntuan?

2 komentar:

  1. Ajiiib.. Mantap! Tulisannya mengalir dengan jumlah kata yang ideal..
    Rapi juga.. Jujur, aku suka tulisan yang rapi (tidak banyak keluar dari kata baku ataupun aturan lain dalam bahasa). Lanjut, mbak! :)

    *eh, Nulisnya yang lanjut, bukan kecelakaannya.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. syukran katsiiiran ya Syaikh :D
      semoga tetep bisa lanjut nulis ya sayanya, begitu pula Syekh sendiri :D

      Hapus