Sabtu, 24 Mei 2014

Tugas

Semester ini, aku sedang dihadapkan dengan banyak tugas yang datangnya bertubi-tubi. Sampai-sampai ada yang mengatakan, "Itu tugas atau kasih ibu? Kok, tak terhingga sepanjang masa?" Sangat miris tapi menggelitik. Bagaimana tidak, begitu hari pengumpulan satu tugas datang, besoknya sudah ada lagi tugas yang diberikan. Dan itu beruntun, terus-menerus. Pastinya semua mahasiswa akan mengeluh jika diberikan tugas-tugas yang berkelanjutan seperti itu.

Namun, terkadang aku lebih menyukai tugas yang diberikan terus-menerus dan sambung-menyambung tapi mudah dikerjakan seperti itu, daripada diberi tugas yang sedikit tapi tingkat kesulitannya di atas batas wajar kemampuan manusia. Tugas yang menumpuk membuat fungsi otakku berjalan, membuatku ingin segera menyelesaikan semuanya, dan akan selalu terpikirkan hingga terbawa mimpi (dan bagian ini benar-benar serius. Satu malam aku memimpikan sedang mencari referensi untuk tugas yang waktu pengumpulannya esok pagi). Ketika dihadapkan dengan tugas-tugas yang menumpuk itu, aku akan cenderung menetapkan kapan tugas yang ini harus selesai, kapan tugas yang itu harus dikerjakan, tugas mana yang masa pengumpulannya lebih dulu, dan sebagainya. Aku menjadi mengerti tentang prioritas. Apa yang harus didahulukan, apa yang harus diakhirkan. Jika mudah tapi masa pengumpulannya masih seminggu, maka aku harus mendahulukan yang sulit tapi dikumpulkan tiga hari lagi. Atau malah mengerjakan yang aku suka terlebih dulu.

Suatu ketika, temanku mengeluh kepada dosen bahwa dia sedang dihadapkan pada tugas yang menumpuk. Akhirnya dosenku menunda masa pengumpulan tugas mata kuliahnya, walau hanya seminggu. Namun hal ini sangat melegakan bagi kami sebagai mahasiswa yang bersedia bangun malam hanya untuk menyelesaikan tugas yang harus dikumpulkan keesokan harinya. Dosen ini mengerti karena beliau pastinya pernah menjadi mahasiswa, seperti kami. Dan ia pun memberi dispensasi, sebuah hal yang sangat kami inginkan.

Akan tetapi, terkadang aku berpikir. Sebenarnya kita tidak perlu mengeluhkan banyaknya tugas yang diberikan oleh dosen kepada kita. Sebaliknya, saat menerima tugas, apakah kita langsung memikirkan bagaimana akan mengerjakannya? Apakah kita cenderung mengulur-ulur waktu terlebih dulu? Apakah kita bersenang-senang dulu baru kemudian terburu-buru mengerjakan karena masa pengumpulan tugas sudah dekat? Seharusnya kita mawas diri. Kita harusnya bisa melihat, sebenarnya kita bisa untuk tidak mengeluhkan tentang banyaknya tugas. Aku pun sering mengeluh tentang tugas yang banyak itu. Namun, apa yang kulakukan? Bukannya mencicil sedikit demi sedikit, aku malah enak menjelajah dunia maya. Bukannya mencari referensi, aku malah membaca berita di situs-situs menarik. Sehingga, ketika masa pengumpulan tiba, aku menjadi panik. Aku belum mengerjakan apa-apa, aku belum mencari apa-apa. Sebenarnya salahku sendiri, kan? Jadi, seharusnya kita sadar, apa yang kita lakukan sekarang itu sebenarnya akan membantu kita nantinya, atau malah menjadi batu sandungan untuk kita ke depannya.

Ketika mengerjakan tugas pun, pasti caranya berbeda-beda. Ada yang butuh keheningan untuk mengerjakan, ada yang butuh berbicara dulu dengan teman-temannya sebelum mengerjakan, ada yang butuh musik untuk membantu menstimulasi otaknya, dan lain sebagainya. Aku termasuk orang yang butuh keheningan untuk mengerjakan tugas. Dan, parahnya, aku adalah orang yang sangat tergantung dengan mood. Ketika aku sedang sangat malas, aku tidak akan menyentuh tugas itu sedikit pun, karena aku tahu bahwa hasilnya tidak akan maksimal, atau bahkan tidak menghasilkan apa-apa. Sebaliknya, ketika aku sedang sangat ingin mengerjakan suatu tugas, ketika aku terbangun di pagi hari dengan sangat mengantuk, aku akan segera bangkit dari tempat tidur, mandi, lalu menyalakan komputer jinjing untuk kemudian mengerjakan tugasku. Sangat berbeda sekali, bukan? Maka dari itu, terkadang sudah biasa menjadi seperti ini. Namun, ketika berhasil mengendalikan mood, akan sangat luar biasa hasilnya.

Jadi, sudah mulai mengerjakan tugas, belum?

0 komentar:

Posting Komentar