Rabu, 28 Mei 2014

Klakson

Kita seringkali mendengar klakson saat di perjalanan. Entah klakson tersebut dibunyikan jarang-jarang atau sesekali, atau sering dengan interval memencet klakson bisa jadi lima detik sekali, atau sekali tapi dibunyikan sangat lama dan panjang. Mendengar klakson dibunyikan kadang membuat kita kesal. Pasalnya, klakson saat ini digunakan kadang tidak sesuai dengan kebutuhan pengendara kendaraan bermotor. Klakson sekarang ini lebih sering digunakan sesuai dengan keinginan dan nafsu pengendara yang seakan ingin mengusir orang-orang yang menghalangi jalannya. Padahal, sebenarnya klakson difungsikan untuk mengingatkan orang yang ada di depan kita, entah itu agar melaju agak sedikit cepat, atau agar pengendara yang ada di depan kita mengerti kita mau mendahului dia. Namun, karena klakson tidak difungsikan dengan baik dan benar dan bahkan malah disalahgunakan, pengendara kendaraan bermotor kebanyakan sangat kesal untuk mendengarkan klakson yang dibunyikan kendaraan lain.

Kita semua pasti sering mendengar klakson dibunyikan saat keadaan sedang sangat macet sehingga seluruh kendaraan terpaksa tidak bisa melaju bahkan dengan kecepatan sedang. Mungkin kita akan bertanya-tanya sendiri melihat kejadian ini, untuk apa klakson dibunyikan saat si pengendara tahu tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu? Apakah klakson tersebut bisa membuat orang-orang di depannya meluncur dengan cepat? Tentunya tidak, bukan? Hal tersebut bukannya membuat kemacetan menjadi teratasi. Sebaliknya, keadaan semakin ricuh dan orang-orang menjadi kesal dibuatnya. Dan nantinya pasti ada sahut-sahutan klakson dari arah lain. Berisik sekali, kan?

Tidak hanya di tengah perjalanan, ternyata kita bisa menemukan klakson di kehidupan sehari-hari kita, di tengah pergaulan kita. Jika klakson yang kita temukan di jalan raya itu digunakan untuk mengingatkan kendaraan lain, maka kita juga punya klakson dalam kehidupan kita sehari-hari. Klakson itu berupa nasihat. Mengapa begitu? Sekarang, kita tahu klakson digunakan untuk mengingatkan orang lain, entah untuk hati-hati ataupun agar melaju lebih cepat, atau untuk memberitahu keberadaan kita di belakang kendaraan tersebut. Nasihat, seperti halnya klakson, digunakan untuk mengingatkan orang lain. Bisa jadi untuk peringatan agar lebih berhati-hati dalam menjalankan sesuatu, atau agar orang lain menjadi termotivasi, atau mengingatkan kesalahan orang lain. Namun, sama seperti klakson, terkadang kita terlalu berlebihan dalam menggunakan nasihat. Nasihat yang harusnya dibunyikan sesekali hanya untuk pengingat, bisa jadi dilontarkan berkali-kali dalam jangka waktu tertentu, atau sekali tapi sangat panjang. Kira-kira, jika kita diberi nasihat seperti ini, akankah kita menjadi jengah? Apakah kita akan lama-lama hapal akan nasihat tersebut dan akhirnya malah masuk kuping kanan keluar kuping kiri? Apakah nantinya kita malah capek sehingga tidak acuh lagi dengan nasihat yang sama? Pasti jawaban untuk semua pertanyaan tersebut adalah 'ya'. Lelah, jengah, kesal, lama-lama tidak mengacuhkan dan akhirnya kita anggap nasihat itu angin lalu.

Lalu, bagaimana cara membunyikan 'klakson' yang satu ini? Sama halnya dengan klakson yang ada di kendaraan kita, nasihat juga harusnya digunakan seperlunya saja. Semisal ada sesuatu yang seseorang harus tahu dan sadar, di saat itulah kita harusnya menggunakan 'klakson' ini. Frekuensi membunyikannya pun tidak perlu terlalu sering. Dengan begitu, nasihat yang disampaikan pun akan diterima dengan baik oleh orang yang kita tujukan nasihat itu. Dan sebagaimana klakson, jika kita melontarkan nasihat terlalu sering dan di saat yang tidak tepat, hal itu malah akan membuat orang yang mendengar menjadi berpikir bahwa kita tidak bisa melihat situasi dan kondisi dengan baik. Bukannya menyelesaikan masalah, kita akan dianggap sebagai pembawa masalah yang baru. Malah menjengkelkan, kan? Maka dari itu, kita harus bisa menjadi pengguna klakson yang benar, entah itu di jalan raya maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi, seberapa sering kamu membunyikan klakson dalam sekali jalan?

0 komentar:

Posting Komentar